Breaking News:

Salam

MUI Harus “Bersih-bersih” Demi Umat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan profiling terhadap jajaran internal menyusul penangkapan anggota Komisi Fatwa terkait kasus terorisme

Editor: bakri
Instagram @faridokbah_official/muhammadiyahcileungsi.org/nurulhudakaffah.com
Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad. Ketiganya diamankan Densus 88, Selasa (16/11/2021), dan sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus terorisme. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan profiling terhadap jajaran internal menyusul penangkapan anggota Komisi Fatwa terkait kasus terorisme. Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BET) MUI Pusat, Muhammad Makmun Rasyid menyampaikan, rencana tersebut menjadi upaya bersih-bersih lembaga dari gangguan terorisme.

"Ini sebagai bentuk introspeksi diri kita bahwa dalam profilling perekrutan di Majelis Ulama Indonesia sangat dibutuhkan ke depan."

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap anggota Komisi Fatwa MUI,  Ahmad Zain an-Najah setelah memeriksa 28 terduga teroris yang lebih dulu diciduk. Kemudian MUI secara resmi memberikan respons tertulis terkait penangkapan terduga terorisme Ahmad Zain An-Najah.

Ada tujuh point yang disampaikan MUI dalam keterangan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Miftachul Akhyar dan Sekjen MUI Amirsyah Tambunan tertanggal 17 November 2021. Pertama, yang bersangkutan adalah anggota Komisi Fatwa MUI yang merupakan perangkat organisasi di MUI yang fungsinya membantu Dewan Pimpinan MUI. Kedua, dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam gerakan jaringan terorisme merupakan urusan pribadinya dan tidak ada sangkut pautnya dengan MUI.

Ketiga, MUI menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum dan meminta aparat bekerja secara profesional dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah dan dipenuhi hak-hak yang bersangkutan untuk mendapatkan perlakuan hukum yang baik dan adil.

Keempat, MUI berkomitmen dalam mendukung penegakan hukum terhadap ancaman tindakan kekerasan terorisme sesuai dengan fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 tentang Terorisme.

Kelima, MUI mengimbau masyarakat untuk menahan diri agar tidak terprovokasi dari kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk keutuhan dan kedamaian bangsa dan negara.

Keenam, MUI mendorong semua elemen bangsa agar mendahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan keutuhan dan kedamaian bangsa dan negara. Ketujuh, MUI menonaktifkan yang bersangkutan sebagai pengurus MUI sampai ada kejelasan berupa keputusan yang berkekuatan hukum tetap.

Kita sangat mengapresiasi respon cepat MUI terhadap penangkapan salah satu anggota komisi Fatwa tersebut. Ini menjadi penting demi menjaga kepercayaan umat. Sebab, MUI merupakan tempat berkumpulnya berbagai sosok dari beragam organisasi masyarakat (Ormas) Islam.

Bersamaan dengan itu, kita juga sangat sependapat dengan pengamat terorisme Ken Setiawan yang mengingatkan semua institusi untuk lebih waspada. Sebab, fakta itu tidak menutup kemungkinan jika institusi, lembaga, kementerian, dan lainnya juga tersusupi jaringan terorisme.

Apalagi, modus yang dilakukan jaringan terorisme untuk bisa masuk ke semua lini begitu beragam. Para pengamat juga meminta MUI segera melakukan bersih-bersih terhadap penyusup yang ingin membawa paham radikalisme. "Sebagai wajahnya para ulama yang memiliki peran penting terhadap pembentukan dan pengembangan umat, MUI harus memastikan bersih dari kelompok-kelompok yang mengancam keutuhan NKRI dan umat."

Dalam konteks ini, selain MUI sudah berinisitaif bersih-bersih internal, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga harus berupaya lebih serius lagi melakukan pembinaan dan penataan terhadap organisasi-organisasi agama dari pengaruh kelompok paham radikalisme. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved