Breaking News:

Kupi Beungoh

Butuh Gerakan dan Gebrakan Pemuda Aceh Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Daerah yang Keliru

Diskursus ruang publik yang dimaksud adalah wacana tentang sosial politik atas dinamika dan perkembangan isu yang sedang terjadi di Aceh.

Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Fadhli Espece, Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Oleh: Fadhli Espece *)

Dalam beberapa waktu terakhir, semacam ada kekosongan dalam diskursus ruang publik di Aceh.

Diskursus ruang publik yang dimaksud adalah wacana tentang sosial politik atas dinamika dan perkembangan isu yang sedang terjadi di Aceh.

Salah satu kekosongan yang penulis maksud di atas adalah nihilnya kehadiran anak muda Aceh secara representatif untuk merespon dan mengkonstruksi suatu wacana atas berbagai problematika yang sedang terjadi di Aceh.

Kesunyian ini di satu sisi adalah kondisi yang diharapkan oleh kekuasaan agar kebijakan-kebijakannya yang keliru dapat berjalan tanpa hambatan dan rintangan.

Tapi di sisi lain, absennya anak muda dalam diskursus ruang publik adalah pertanda buruk bagi demokrasi yang didamba-dambakan.

Baca juga: Hikayat Prang Sabi, Keneubah Jroeh Ka Trep Gadoeh, Ini Syairnya yang Munculkan Semangat Perjuangan

Ruang publik yang seharusnya menjadi saluran yang menghubungkan antara state (negara-pemerintah) dan society (masyarakat) kini justru terlihat pincang.

Beberapa pihak mengambinghitamkan dana hibah yang dulu sempat dibagi-bagikan oleh Gubernur Aceh kepada 100 Organisasi Kemasyarakatan & Pemuda (OKP).

Istilahnya “suntik vaksin” tersebut dinilai telah berhasil “mengondisikan” atau paling tidak, menekan daya kritis dari kalangan mahasiswa dan pemuda terhadap kebijakan Pemerintah Aceh.

Sejak saat itu, publik seperti kehilangan anak mudanya yang berani berhadap-hadapan dengan kekuasaan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved