Breaking News:

Kupi Beungoh

Hikayat Prang Sabi, Keneubah Jroeh Ka Trep Gadoeh, Ini Syairnya yang Munculkan Semangat Perjuangan

Konteks sosial-politik telah memengaruhi pengarang menulis sebuah karya sastra dalam bentuk hikayat.

Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Fadhli Espece, Pengkhidmat Hikayat Prang Sabi dan Muhammad Arifin, Alumnus Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga 

Oleh: Muhammad Arifin dan Fadhli Espece *)

Hikayat Prang Sabi merupakan manifestasi perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme dan Imperialisme Belanda 1873.

Konteks sosial-politik telah memengaruhi pengarang menulis sebuah karya sastra dalam bentuk hikayat.

Tengku Haji Muhammad Pante Kulu atau yang lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Pante Kulu, merupakan pengarang sajak-sajak heroik perang terbesar di Aceh, sekaligus seorang pemimpin perang dan ulama karismatik Aceh.

Ia lahir pada tahun 1251 H (1836) di desa Pante Kulu, kemukiman Titeue, Kabupaten Pidie dan  memiliki hubungan kerabat dengan ulama Tiro.

Karya sastra yang ditulis pada akhir abad 19 ini menjadi senjata baru bagi rakyat Aceh yang dikobarkan oleh Teungku Chik Pante Kulu sebagai badal pengganti rencong untuk melawan Belanda.

Hikayat Prang Sabi yang dikarang oleh Tengku Chiek Pante Kulu sangat panjang dan memiliki isi kandungan yang sangat luas.

Baca juga: VIDEO - Ziarah ke Makam Tgk Chik Pante Kulu, Ulama Pengarang Sastra Perang Hikayat Prang Sabi

Memiliki karakteristik dan sistematika penulisan yang sangat indah dengan menggunakan aksara Arab Jawoe yang saat ini mulai terasing dari kehidupan kita.

Hikayat Prang Sabi memiliki karakteristik huruf tersendiri yang independen dari aksara Arab yang jamak kita kenal hari ini.

Hal sedemikian mengaharuskan kita memahami terlebih dahulu bagaimana konsep penulisan dan teori sastra hikayat Aceh sebelum membacanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved