Breaking News:

Opini

Menangkap Maling Aceh

Penyebutan kata “maling” bagi koruptor mungkin masih terdengar janggal. Ada yang bilang, itu kurang cocok disematkan bagi pejabat

Editor: hasyim
Menangkap Maling Aceh
IST
Asmaul Husna, Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dan pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe)

Namun tanpa kuasa, kita seolah tak punya daya. Aroma korupsi sudah tercium jauh-jauh hari. Setiap pengadaan barang atau adanya proyek raksasa, tumbuh sejumput curiga. Namun curiga masyarakat biasa, tak mampu menetapkan para pelaku menjadi tersangka. Maka kedatangan KPK, diharapkan dapat membuahkan hasil. Berhasil membuktikan rasa curiga.

Walau belakangan ini, masyarakat mulai meragukan mentalitas kinerja pegawai KPK. Hal ini terjadi usai kasus Bupati Tanjung Balai yang menyeret penyidik lembaga antirasuah itu dalam praktik suap untuk menutup kasus yang sedang diungkap. KPK seperti tak lagi menunjukkan gigi taringnya. Pun demikian, praktik suap untuk menutup kasus yang sedang diungkap seperti yang terjadi di Tanjung Balai beberapa waktu lalu, tidak boleh terulang lagi di Aceh.

Ada banyak dugaan kasus korupsi yang menjerat pejabat. Dari kasus beasiswa hingga kapal Aceh hebat. KPK harus mampu mematahkan keraguan publik tersebut dengan melakukan penyidikan dan penyelidikan secara benar.

Inilah yang saya maksud. Tidak ada keadilan dalam hukum kita. Pejabat dan masyarakat biasa, beda proses hukumnya. Beda fasilitasnya. Seperti yang disebutkan presenter Najwa Shihab, “Koruptor menjadi napi, menyulap fasilitas bui hanya soal transaksi. Selama ini raga koruptor terpenjara, tapi bisnis dan hidup sosialnya lancar jaya. Ada yang salah dengan system hukum kita. Terutama bobot hukuman dan efek jera.”

Itu pula yang menyebabkan negara kita tidak makmur. Kita tidak makmur karena kita tidak adil. Tanpa adil dan jujur, maka tidak ada rasa percaya. Karena jika publik sudah percaya, laporan-laporan pertanggungjawaban anggaran, tak lagi menarik perhatiannya. Proyek-proyek raksasa tak lagi menumbuhkan curiga. Inilah harga sebuah percaya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved