Breaking News:

Kupi Beungoh

KARAKTER IBU; Mempengaruhi Kesalehan Anak

Belajar dari kisah Istri Nabi Ibrahim, dengan anaknya yang bernama Nabi Ismail, dan kisah Istrinya Nabi Nuh dengan anaknya yang bernama Qan'an

Editor: Amirullah
ist
Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh: Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag*)

(Belajar dari kisah Istri Nabi Ibrahim dan Istri Nabi Nuh).

"Hak anak, dari ibunya adalah ia mendapatkan ayah yang shaleh. Hak anak, dari ayahnya adalah ia mendapatkan ibu yang shalehah."

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. 

Imam al-Ghazali mendefinisikan ahklak dalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau atau direncanakan sebelumnya.

Dengan demikian karakter dalam Islam adalah akhlak seorang muslim terhadap Allah, terhadap Rasul, terhadap diri, terhadap sesama dan  terhadap lingkungannya.

Baca juga: KASIH IBU SEPANJANG HAYAT; Kasih Anak Jangan Tunggu Mudik

"KARAKTER DALAM ISLAM ADALAH AKHLAK "

Belajar dari kisah Istri Nabi Ibrahim, dengan anaknya yang bernama Nabi Ismail, dan kisah Istrinya Nabi Nuh dengan anaknya yang bernama Qan'an, tentang pengaruh karakter ibu terhadap keshalehan anak.

Istri Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim sudah menikah lebih dari 10 tahun, namun Allah SWT belum memberikan keturunan, sementara  beliau sangat menginginkan seorang anak. Kemudian  dengan saran dan seizin istri beliau Siti Sarah. Nabi Ibrahim, menikah dengan Siti Hajar, yang kemudian Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak, yang bernama Ismail yang dikenal dengan Nabi Ismail as.

Baru senang senangnya Nabi Ibrahim, menimang Ismail kecil,  Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as, membawa Ismail kecil ke mekah beserta ibunya Siti Hajar. Sesampainya di padang pasir yang panas, lagi tandus dan tidak ada air tersebut,  Nabi Ibrahim meninggalkan Ismail dan Siti Hajar di tempat tersebut tampa orang lain hanya berdua saja.  Nabi Ibrahim kembali pulang, sesuai dengan perintah Allah SWT. ( kalau kita di posisi Siti Hajar, tentu akan marah, sedih dan kecewa)

Ketika ibrahim, hendak berbalik arah kembali pulang, Nabi Ibrahim berpesan satu hal pada istrinya Siti Hajar:  "jangan pernah keluar dari padang pasir ini". ( kalau kita di posisi ibunda Siti Hajar, mungkin makin marah, kita ditinggal di padang tandus, tanpa sumber air, hanya berdua dengan anak, masih bayi lagi,  sangat tega, mungkin kira-kira begitu ungkapan perasaan kita sebagai perempuan).

Baca juga: ALASAN APA; Wanita Islam Menutup Seluruh Tubuhnya Kecuali

Ketika Ibrahim berbalik melangkah pulang.

Ibunda Siti Hajar bertanya: Ini atas perintah siapa,  wahai Nabiyullah Ibrahim?

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved