Breaking News:

Opini

Kedudukan Suami-Istri dalam Rumah Tangga

Kasus perceraian hampir setiap daerah di Aceh mengalami peningkatan yang signifikan, umumnya permohonan datang dari pihak istri

Editor: bakri
Kedudukan Suami-Istri dalam Rumah Tangga
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, dan Anggota IKAT-Aceh

Untuk itu, jangan merasa sombong dan menafikan peran keluarga, karena di balik kesuksesan seorang suami maupun istri terdapat di sisinya istri atau suami tangguh yang selalu mensupport dan mendoakan.

Baca juga: Kisah Bu Dokter 8 Anak Sempat Jadi Istri Kedua, Setelah Cerai Kini Unggah Foto Kekasih Baru

Maka dalam membelanjakan rizki perlu mendiskusikan dan menanyakan pendapat pasangan hidup, dengan sikap mulia seperti itu tentu pasangan akan merasa dihargai dan diakui eksistensinya sehingga selalu merasa dicintai.

Dan Rasulullah sendiri dalam segala hal meminta pendapat istrinya walaupun persoalan genting sekalipun seperti strategi perang dan lainnya.

Sekali lagi kedudukan suami-istri dalam rumah tangga adalah sederajat, maka apapun harus dikomunikasikan dan dimusyawarahkan bersama termasuk ketika seorang suami berniat menambah istri.

Jangan melakukannya secara diam-diam tanpa meminta restu istri dengan dalih bahwa itu merupakan hak penuh suami secara mutlak karena sudah termaktub dalam Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Sekiranya istri menolak maka akan dianggap sebagai istri yang nusyuz yang tidak akan masuk surga.

Dalam Alquran, tidak ada diskriminasi terhadap suami maupun istri, Alquran menyuruh suami menggauli istri secara patut, tidak boleh menzalimi atau menyakiti perasaannya.

Maka sekiranya suami berkhianat seperti berselingkuh atau bersikap kasar dan buruk terhadap istri, istri jangan menyalahkan diri sendiri dengan merasa belum menjadi istri yang salehah atau kurang pintar dalam merawat diri dan sebagainya.

Istri juga punya hak untuk menjawab dan menolak keinginan suami, misalnya keberatan untuk dimadu, dan merasa tidak akan dapat menegakkan kewajibannya jika suaminya mengambil keputusan sepihak seperti itu yang dapat merugikan istri bahkan istri dapat menolak kewajibannya jika suaminya telah bersikap semena-mena, dan suami juga boleh menahan kewajibannya sekiranya istri bersikap nusyuz, karena nusyuz bisa dari istri dan juga bisa dari suami.

Di sisi lain suami merasa bahwa ranah domestik murni ranahnya seorang istri, jadi sekiranya melihat kondisi rumah berantakan maka istri yang harus menanggung risiko.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved