Breaking News:

Opini

Anak dan Jasa Orangtua

Ia bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, bahkan pelindung orang tua di saat lansia

Editor: bakri
Anak dan Jasa Orangtua
For Serambinews.com
Abdul Gani Isa, Staf Pengajar Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Aceh

Shalat menjadi salah satu hal penting diterapkannya di dalam keluarga, seperti sabdanya: Muru as-shabiya bis shalah idza balagha sab’a sinin, fa idza balagha ‘asyra sinin fadhribuhu ‘alaiha ( Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat bila berumur tujuh tahun, bila sudah beranjak sepuluh tahun (tidak mau) maka berilah sanksi kepadanya) (HR.Abu Daud, dan Turmidzi).

Konsep itu seperti digagas Rasulullah dinilai sangat penting, terlebih dalam era modern, di mana dampak dari pengaruh lingkungan sangat tidak mudah diawasi, namun bila si anak sudah disiplin dengan shalat, insya Allah dengan sendirinya bisa mengawal dirinya masing-masing sekalipun saat berada di luar rumah.

(3) Mencintai dan mengenal keluarga Rasulullah SAW.

Dalam kaitan ini orang tua dianjurkan membawa ke rumah bacaan-bacaan yang bernilai agama, seumpama kisah-kisah keluarga Rasulullah atau lagu, yang bernafaskan Islami.

Bahkan yang penting juga mengontrol, mengawasi alat komunikasi yang digunakan termasuk komputer, Hp, internet.

Ini bisa dilakukan baik melalui contoh dari orang tua, pesan moralitas, nasihat yang santun dan bersifat persuasif dan cara-cara lainnya.

Karena menurut Rasulullah, setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR.Bukhari Muslim).

Kedua, konsep ramah lingkungan.

Dimaksudkan dengan ramah lingkungan adalah “bersih lahir dan bersih batin”.

Bila kita mengkaji fikih, setidaknya ada dua macam kotoran/najis, yang pertama disebut dengan “hissiyah” dan yang kedua disebut “maknawiyah”.

Bentuk hissiyah, semua kotoran atau najis yang dapat dilihat dengan pancaindera, sehingga dengan mudah dibersihkan, sedangkan yang maknawiyah, kotoran yang tidak bisa dilihat oleh pancaindera, inilah yang disebut dengan “dosa-dosa” anak Adam.

Inilah yang diutamakan Rasulullah SAW, agar disekat melalui filter yang bersahaja, tidak hanya yang bersifat hissiyah tidak masuk ke rumahnya, tapi justeru yang maknawiyah pun secara lebih tegas, walau dosa yang sekecilpun tidak boleh dekat dan masuk ke dalam rumah tangganya.

Beliau pernah mengingatkan umatnya: “kullu lahmin nabata minal haram fa aula binnar” (Setiap daging yang tumbuh dari jenis haram, maka lebih dekat/condong ke neraka).

Ketiga, Rasulullah juga menganjurkan: akrimu awladakum wa ahsinu adabahum (Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlaq mereka).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved