Berita Lhokseumawe
Penulis Buku dan Editor Cerita Sebut Kecakapan Hidup Perlu Dilatih Sejak Dini
Banyak kecakapan hidup (life skill) yang harus dilatih pada anak sejak usia dini supaya mudah tertanam dalam pikirannya sampai dia dewasa nantinya
Penulis: Jafaruddin | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Jafaruddin I Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE – Banyak kecakapan hidup (life skill) yang harus dilatih pada anak sejak usia dini supaya mudah tertanam dalam pikirannya sampai dia dewasa nantinya.
Latihan kecakapan hidup itu sangat diperlukan bagi anak supaya mereka termotivasi untuk terus berkreativitas dan belajar menjadi mandiri.
Demikian antara lain disampaikan Aris Ananda Education & Trainer dan pendiri HACI Agency, ketika mengawali materi untuk peserta Program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch III, melalui Zoom Meeting, dua hari lalu.
FJP ke-3 tersebut diadakan GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation, diikuti 15 jurnalis terpilih dari Aceh (Serambi Indonesia), sampai Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi, Kalimantan berlangsung dari September -Desember 2021.
Baca juga: Ini Arahan Danrem Lilawangsa Kepada Prajurit Saat Kunker ke Kodim Aceh Timur
Pertemuan tersebut juga diikuti, oleh mentor yang terdiri Mohammad Nasir (Wartawan Senior Kompas 1989-2018), Frans Surdiasis (Kepala Litbang The Jakarta Post), Haryo Prasetyo (mantan Asisten Kepala Divisi Pemberitaan Media Indonesia), dan Nurcholis Basyari, yang juga Direktur GWPP.
Aris mengisi materi berjudul “Edutainment dan Story Telling dalam Penyelenggaraan Pendidikan Dasar: Upaya Mengenalkan Kecakapan Hidup (Life Skill) pada Anak-Anak PAUD dan SD Melalui Boneka Tali” bersama Ryan Shahrezade (Storyteller).
Dalam kesempatan itu, Ryan menunjukkan kepiawaian sebagai dalang bermain boneka tali (marionette string puppet), dengan peran Paman Bonbon.
Keduanya sejak 2017, tampil di banyak sekolah kawasan Jabodetabek untuk menghibur dan mengedukasi anak-anak untuk melatih kecakapan hidup.
Namun, karena pandemic Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada tahun 2020, sehingga Ryan dan Aris lebih banyak tampil mengedukasi anak-anak melalui youtube.
Baca juga: Ini Sopir dan Identitas Sementara Penumpang Mobil Masuk Jurang Perbatasan Subulussalam-Pakpak Bharat
“Seorang anak yang memiliki kecakapan hidup akan mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan,” ujar Desainer Program Drama TV. Karena itulah life skill penting diajarkan sejak dini.
Menurut Aris ada tiga kecakapan yang bisa digali melalui pertunjukkan boneka tali yakni: kecakapan personal terkait potensi diri, kemudian kecakapan rasional terkait dalam mengambil keputusan dan ketiga kecakapan sosial terkait kerjasama.
Penggagas Boneka Tali itu, mencontohkan budaya antre, membuang sampah pada tempatnya yang merupakan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang perlu dilatih dan dibiasakan.
Selain itu pada anak-anak juga harus diperkenalkan tentang emosi-emosi, seperti emosi marah, emosi senang, emosi sedih.
Karena ketika anak-anak masih usia dini belum mampu mengenali emosi-emosi tersebut, mereka akan tumbuh menjadi orang yang bingung terhadap emosinya.
“Ini bisa mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan anak," ujar penulis skenario drama antara lain Oh Mama Oh Papa (1995), Jamin dan Joan (1996).
Sedangkan kecakapan rasional berkaitan dengan olah pikir, mampu menggali mengolah informasi dan pengambilan keputusan.
Baca juga: Survei INES, Airlangga Hartarto Masuk Empat Tokoh Kuat Calon Presiden
Anak-anak kata alumnus Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, perlu dihadapkan pada masalah, untuk membiasakan kemudian bagaimana mereka mengatasinya.
Sementara kecakapan sosial, kalau dikaitkan dengan kecakapan personal bagaimana mengenali emosi, maka mereka akan menjadi orang yang suka berempati.
“Karakter baik ini perlu ditanamkan sejak dini. Kalau sudah usia SMP dan SMA akan susah, karena sudah terbentuk ketika PAUD dan SD,” ujar penulis buku Kreativitas untuk Booming pada tahun 2014.
Lalu kenapa harus dengan boneka tali ? Karena kata Aris pesan edukasi dapat disalurkan melalui bahan publikasi,seperti gambar, model atau benda tiruan lainnya. Boneka tali masuk dalam kategori bahan model atau benda tiruan.
“Karena anak-anak menganggap benda-benda tersebut adalah benda hidup dan temannya, sehingga bisa mentransfer pengetahuan,kepada anak,” pungkaspria Penulis Riset, Indosiar (PT. Indosiar Visual Mandiri), Januari 1995 - Juni 1997.(*)
Baca juga: Jelang Indonesia Vs Vietnam di Piala AFF, Park Hang-seo Puji Skuad Garuda, Shin Tae-yong Tidak Takut
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penulis-buku-dan-dalang-boneka-mengisi-materi-untuk-peserta-fellowship-jurnalisme-pendidikan.jpg)