Minggu, 24 Mei 2026

Jurnalisme warga

Aceh dalam Pesona Musik Bersama ‘Oranghutan Squad’

Modul Nusantara merupakan kegiatan spesial yang kami jalani dalam Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini

Tayang:
Editor: bakri
For Serambinews.com
MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, sedang mengambil Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Kampus Universitas Bina Bangsa Getsempena, melaporkan dari Banda Aceh 

Hal terunik dari Oranghutan Squad ini adalah mereka menampilkan genre musik hip hop yang secara umum oleh masyarakat dikenal dengan pandangan buruk.

Tapi di tangan Oranghutan Squad, genre musik hip hop yang dipadukan dengan seni musik tradisional Aceh benar-benar membuat kami terpesona.

Melalui lagu “Meusyeuhu”, mereka menghadirkan Aceh dalam 12 bahasa lokal Aceh yang terdiri atas Aceh, Gayo, Gayo Lues, Singkil, Tamiang Hulu, Tamiang Hilir, Kluet, Aneuk Jamee, Alas, Simeuleu Devayan, Sumeuleu Sigulai, dan bahasa Indonesia.

Tidak hanya kekayaan bahasa, mereka juga mengenalkan 12 tokoh dan pahlawan dari masing-masing daerah tersebut yang hampir sudah tak dikenal lagi, seperti Teuku Cut Ali, Syekh Abdurrauf As-Singkily, Panglimo Rajo Lelo

Syekh Burhanuddin Ulakan, Malik Ibrahim, Aman Dimot, Teungku Banurullah, Panglime Linting, Raja Mude Sedie, Raja Pucook Sulooh, dan terakhir Sultan Iskandar Muda.

Lebih memesonal lagi, genre hip hop yang dipadukan dengan beberapa alat musik tradisional seperti seurune kalee, rapa-i, dan suling gayo membuat melodi musik yang tercipta semakin menarik.

Terakhir, dalam videoklip tersebut menampilkan tari seudati, likok pulo, pelebat, dan tari tuak kukur.

Hanya dengan lagu “Meusyeuhu” ini, kami tersadarkan akan banyaknya subetnis di Provinsi Aceh.

Dalam sesi diskusi, kami banyak mengetahui proses produksi, lama produksi lagu ini, fakta-fakta menarik dari balik layar pembuatan lagu ini hingga lokasi-lokasi syuting videoklip lagu ini.

Pusat lokasi syuting berada di Kutacane, Aceh Tenggara, tepatnya di perbukitan di bawah kaki Gunung Leuser.

Di samping di Kutacane, lokasi syuting juga tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, Danau Lut Tawar, dan sepanjang perjalanan menuju Kutacane itu sendiri.

Busnior sebagai salah satu personel dari Oranghutan Squad menginformasikan bahwa “produksi lagu ‘Meusyeuhu’ ini berlangsung sekitar empat bulan lamanya, terhitung dari penetapan tema, workshop lirik, penentuan nada, workshop lokasi syuting, hingga pengeditan.

Lirik lagunya dibuat secara terpisah dan baru digabungkan saat proses workshop lirik lagu berlangsung.

Tentu menjadi tantangan tersendiri karena bahasa yang dibawakan dalam lirik tersebut tidak semua berasal dari daerah kelahiran para personel ini.

“Jadi, kami harus melakukan kroscek kembali ke teman atau langsung kepada para orang yang dituakan di masing-masing daerah tersebut,” ujar Busnior.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved