Breaking News:

Mihrab

Islam dan Kewajiban Berpolitik - Syariat Islam Tegak Melalui Kekuasaan Politik atau Penguasa

Di mana tujuan dari aturan fiqh siyasah tersebut merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan negara yang adil dan terpenuhinya hak-hak rakyat.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Ketua Komisi B MPU Banda Aceh yang juga dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry Banda Aceh, Tgk Bustamam Usman SHI MA 

SERAMBINEWS.COM – Tentunya, setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Namun, Islam telah memiliki sistem politik yang disebut dengan fiqh siyasah.

Di mana tujuan dari aturan fiqh siyasah tersebut merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan negara yang adil dan terpenuhinya hak-hak rakyat.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, pada prakteknya, menuntut agar mengimplementasikan fiqh siyasah secara komprehensif dalam sistem negara dan pemerintahan.

Di dalam bahasa Arab, politik dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah syar’iyyah.

Ketua Kimisi B MPU Kota Banda Aceh, Tgk Bustamam Usman, SHI, MA menyebut, berkecimpung dalam politik berarti memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezhaliman penguasa pada kaum muslimin dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka.

Baca juga: ISLAM;  Menjaga Harmonisnya Kehidupan

“Untuk itu perlu mengetahui apa yang dilakukan penguasa dalam rangka mengurusi urusan kaum muslimin, mengingkari keburukannya, menasihati pemimpin yang mendurhakai rakyatnya, serta memeranginya pada saat terjadi kekufuran yang nyata (kufran bawahan),” katanya.

Ia menyebut, masyarakat kita masih banyak yang berpendapat bahwa politik itu kotor dan harus dijauhi.

Sehingga anggapan seperti itu membuat masyarakat sangat apatis, apriori (benci), dan alergi dengan politik dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Hal itu mungkin terjadi karena hasil penglihatan langsung masyarakat dilapangan dan lewat media terhadap politik selama ini selalu menunjukkan gejala yang buruk.

“Orang-orang yang terlibat di dalamnya dapat bergeser orientasi politiknya menjadi politik imperialis, berkhianat, koruptor dan semena-mena. Apalagi, setelah panggung politik dunia dirasuki politik Machiavelli yang menghalalkan segala cara, semakin menjadi-jadilah kebencian masyarakat terhadap politik,” jelas Tgk Bustamam.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved