Video
VIDEO Melihat Produksi Mie Kuning Tengku Rahman di Aceh Besar
Selama pandemi hingga kondisi kasus Covid-19 mulai melandai, Tengku Rahman mengaku bertahan sekuat mungkin untuk tetap memproduksi mie kuning.
SERAMBINEWS.COM - Usaha mie kuning Aceh atau mie mentah sempat terpukul saat awal-awal pandemi Covid-19. Hal itu yang kemudian ikut dirasakan Abdul Rahman (54) atau biasa dipanggil Tengku Rahman, pemilik salah satu tempat penggilingan mie mentah sekitaran Jalan Masjid menuju Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar yang dinamai Usaha Mie Utama.
Kepada Serambi on TV, Kamis (17/2/2022) bercerita, sebelum pandemi Covid-19 biasanya memproduksi mie kuning hingga 1 ton lebih per hari untuk dipasarkan kepada para pemilik warung mie Aceh atau masyarakat biasa di sekitaran Aceh Besar dan Banda Aceh.
Saat puncak pandemi pertengahan 2020 lalu, usahanya sempat begitu terpukul. Ia pernah memproduksi hanya 300 kg mie kuning saja per harinya atau terpangkas 70 persen.
Sementara di tahun 2021 hingga saat ini, terutama pasca pelonggaran pembatasan sosial, usahanya mulai membaik. Produksi mulai berkisar di antara 700-900 kg per hari seiring dibukanya warung-warung mie Aceh.
Selama pandemi hingga kondisi kasus Covid-19 mulai melandai, Tengku Rahman mengaku bertahan sekuat mungkin untuk tetap memproduksi mie kuning.
Ia berujar, tak masalah untung sedikit, yang penting pembeli tetap senang dan harga mie kuningnya tidak naik.
Walau kondisi sedang sangat terjepit, ia tetap menjual mie mentah produksinya Rp 8.000 per kilo. Menurutnya, harus tetap sabar dengan berbagai kondisi karena kasihan masyarakat bila harga mie mentah ikut dinaikkan.
Tengku Rahman mengungkapkan, dalam sehari berjualan ia hanya dapat keuntungan bersih Rp 200.000 saja. Katanya, lebih baik untung sedikit tapi tidak ada beban, daripada untung banyak tapi utang di mana-mana.
Terlebih saat ini harga minyak goreng yang menjadi salah satu bahan pengolahan mie mentah sedang meroket, meski demikian ia tak pernah menaikan harga ke pembeli maupun pelanggan.
Setiap harinya Tengku Rahman menghabiskan sekitar 18 sak tepung dan 10 kg minyak goreng untuk dijadikan bahan membuat mie kuning mentah di usaha yang digelutinya. Bersama empat karyawan, ia sudah memulai usaha tersebut sejak 28 tahun silam.
Keempat karyawan tersebut bekerja sejak pukul 6.00-11.00 WIB, kemudian dilanjutkan pada jam siang mulai 14.00-16.00 WIB sore hari. Mereka semua dibayar dengan gaji per hari. Menurutnya, membayar kikis keringat pekerja sebelum keringat mereka kering menjadi keringanan dan keberkahan dalam usahanya.
Hingga kini, ada puluhan warung mie Aceh yang menjadi langganan usaha Tengku Rahman. Ia berujar , salah satu langganannya Mie Ayah yang jadi warung legendaris di Banda Aceh. Menjadi pilihan banyak pelanggan karena klaimnya tak mengenakan formalin dalam mie mentah yang diproduksinya.
Ia tak bisa memprediksi apakah usaha mie kuning Aceh ini dapat terus bertahan ke depan. Meski demikian, selama menghindari keburukan atau tidak berbuat culas dalam berusaha, biasanya rezeki akan terus mengalir dan jualannya dilancarkan.
Hal ini yang kemudian menjadikan kunci sukses Tengku Rahman bertahan hingga 28 tahun di usaha tersebut.
Baca juga: Rakortekrenbang Kemendagri Selaraskan Perencanaan Pembangunan Pusat dan Daerah
Baca juga: Jelang Pemilu 2024, GeRAK dan KIP Banda Aceh Bahas Ketahanan Demokrasi