Breaking News:

Ibu Rumah Tangga Ini Dituntut 2,5 Tahun Penjara, Gelapkan Uang Arisan Online, Begini Ceritanya

Suryo juga mengatakan bahwa terdakwa Dewi merupakan korban dalam permainan illegal transaksi keuangan yakni tidak terdaftar pada Otoritas Jasa

Editor: Nur Nihayati
DOK POLRESTA BANJARMASIN via BANJARMASIN POST
Ilustrasi - Tersangka kasus dugaan penipuan berkedok arisan online di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Suryo juga mengatakan bahwa terdakwa Dewi merupakan korban dalam permainan illegal transaksi keuangan yakni tidak terdaftar pada Otoritas Jasa  

SERAMBINEWS.COM - Hati-hati jika Anda suka mengikuti arisan online.

Harus lebih jelas dan bagaimana sistem arisan itu jangan sampai ditipu.

Seorang ibu rumah tangga (IRT) di Medan, Sumatera Utara Dewi dituntut 2,5 tahun penjara terkait dugaan penggelapan uang investor arisan online puluhan juta.

Terdakwa kemudian meminta agar dibebaskan dari segala dakwaan jaksa.

Permintaan bebas itu disampaikan terdakwa Dewi melalui penasehat hukumnya Suryo Kentjoro Lie dan Ferry Suharris pada persidangan yang beragendakan pembacaan pledoi di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri Medan.

Dalam pledoinya, Suryo menyatakan bahwa kliennya tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa, yakni Pasal 372 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana subs Pasal 378 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Baca juga: Puluhan Wanita Jadi Korban Penipuan Arisan Online yang Dikelola Istri Oknum Polisi Polres Asahan

Baca juga: Hati-hati, IRT di Lhokseumawe Tipu Belasan Emak-emak Ratusan Juta Rupiah, Berkedok Arisan Online

Baca juga: Penipuan Modus Arisan Online Ternyata Bodong, Wanita Ini Raup Rp 2 Miliar dari 208 Member

Dimana tuntutan JPU Rocky Sirait katanya tidak mencerminkan rasa keadilan bagi terdakwa.

"Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk membebaskan terdakwa Dewi dari segala dakwaan," kata Suryo, Rabu (2/3/2022).

Permintaan bebas, kata Suryo, bukan tanpa alasan.

Sebab, berdasarkan fakta persidangan berupa keterangan para saksi, bahwa perkara tersebut bukan tindak pidana melainkan pinjam meminjam uang atau hutang piutang.

"Menurut ketentuan hukum, terdakwa Dewi tidak dapat dipidana sebagaimana UU Nomor 39 Tahun tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Pasal 19 ayat (2) menerangkan bahwa Tidak seorangpun atas putusan Pengadilan boleh dipidana penjara atau kurungan berdasarkan atas alasan ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban dalam perjanjian utang piutang," ujar Suryo.

Sehingga, kata Suryo, unsur dengan sengaja tidak terpenuhi karena perkara ini merupakan hutang piutang.

Selain itu, terdakwa juga telah membayar sejumlah uang kepada saksi korban Wahyuni senilai dengan Rp 33.500.000 dengan 4 kali pembayaran dengan struk terlampir.

"Korban juga telah mengambil sejumlah barang dari rumah terdakwa Dewi pada tanggal 07 Juli 2021 yakni berupa 1 unit sepeda motor, 1 buah laptop, hp, perhiasan dan 1 tas Branded dengan nilai total barang senilai puluhan juta," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved