Serambi Awards 2022

Kawasan Pembangunan Suaka Badak Sumatera

Pemkab Aceh Timur sedang mempersiapkan pembangunan Suaka Badak Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS).

Editor: IKL
DOK DISKOMINFO ACEH TIMUR
PELETAKAN BATU PERTAMA - Bupati Aceh Timur, H Hasballah Bin HM Thaib SH, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Suaka Badak Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Desa Rantau Panjang Beudari, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Kamis (11/11/2021). 

SERAMBINEWS.COM - Saat ini, Pemkab Aceh Timur sedang mempersiapkan pembangunan Suaka Badak Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Tempat ini terhubung langsung ke hutan alami Kawasan Ekosistem Leuser hingga ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Keberadaan badak di Leuser sudah terdeteksi. Ketika pembanguan SRS selesai, maka badak-badak ini akan ditangkap dan dipindahkan ke SRS.

Sesuai dengan Rencana Aksi Darurat Badak Sumatera yang ditetapkan Dirjen Konservasi Sumber daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), populasi badak sumatera di Leuser bagian timur kurang lebih 15 individu dan sulit berkembang biak.

Sehingga, badak-badak ini harus disatukan dan dibantu perkembangbiakannya. Harapannya badak yang lahir di SRS ini nanti akan dikembalikan ke alam liar. Selain itu, adanya SRS untuk menjaga keragaman genetik dan keseimbangan ekosistem.

Baca juga: Kawasan Minapolitan

Kemiskinan Menurun, IPM Meningkat

PEMKAB Aceh Timur juga berhasil menurunkan persentase penduduk miskin. Pada tahun 2012 mencapai 17,19 persen dan terus turun menjadi 14,45 persen pada tahun 2021. Tingkat Pengangguran terbuka cenderung fl uktuatif. Sempat meningkat di angka 13,89 persen, tetapi kembali turun hingga mencapai 7,13 persen.

Begitu pula dengan angka kematian bayi juga sempat meningkat dari 9 kasus menjadi 12 kasus, tetapi dapat dikendalikan menjadi 8 kasus. Sedangkan Angka Kematian Ibu dapat ditekan dari 144 kasus menjadi 19 kasus periode 2012-2020.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat. Pada tahun 2012 berada di angka 62,93. Kemudian meningkat hingga 67,63 pada tahun 2020. Artinya, pembangunan manusia di Kabupaten Aceh Timur terus mengalami kemajuan, baik dari segi pendidikan, kesehatan maupun ekonomi.

Untuk angka gini ratio cenderung fluktuatif, tetapi tetap bernilai kurang dari “1”. Pemkab Aceh Timur terus mengupayakan angka gini ratio menurun agar mendekati ‘0” untuk menunjukkan adanya pemerataan distribusi pendapatan antar penduduk. PDRB ADHB dengan Migas terus mengalami kenaikan, dari 8,08 triliun pada tahun 2012, terus naik menjadi 10,35 triliun pada tahun 2020. Hal yang sama dengan PDRB ADHB Tanpa Migas, juga terus naik dari 6,13 triliun menjadi 10,35 triliun.

 Sedangkan PDRB ADHK dengan Migas sempat mengalami fl uktuasi, dari 7,67 triliun pada tahun 2012 kemudian turun mencapai 7,17 triliun dan naik kembali hingga mencapai 8,29 triliun pada tahun 2020. Berbeda dengan ADHK Tanpa Migas yang terus naik dari 5,78 triliun hingga 7,86 triliun kurun waktu 2012-2020.(*)

Baca juga: Lahan Pertanian Pangan (Food Estate)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved