Breaking News:

Berita Banda Aceh

IDI Bersatu IDI Berubah

Muktamar XXXI Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sedang berlangsung pada tanggal 22-25 Maret 2022 di Banda Aceh Conventation Hall

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Zul Asdi SpB MKes MH 

* Pemikiran Dr Zul Asdi SpB MKes MH (Calon President Elect PB IDI 2022-2025)

Muktamar XXXI Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sedang berlangsung pada tanggal 22-25 Maret 2022 di Banda Aceh Conventation Hall dengan mengusung tema "Peran Strategis IDI dalam Membangun Kemandirian dan Meningkatkan Ketahanan Bangsa".

Muktamar adalah kekuasaan tertinggi organisasi sebagai forum pelaksanaan kedaulatan seluruh anggota IDI.

Salah satu agendanya adalah memilih Ketua Umum PB IDI Terpilih (Presiden Elect) serta mengukuhkan Ketua Umum PB IDI terpilih pada muktamar sebelumnya menjadi Ketua Umum.

Sebagai individu yang sudah berkecimpung lama di organisasi IDI, saya melihat begitu banyak permasalahan dokter Indonesia dan IDI serta tantangan-tantangan yang akan dihadapi oleh dokter Indonesia kedepannya.

Sejarah menyatakan dokter Indonesia sudah berperan jauh sebelum Kemerdekaan Indonesia.

Pertama dalam pembentukan bangsa yang diprakarsai oleh Budi Utomo dan kawan-kawan yang didukung oleh Dr Wahidin Sudirohusodo, yang berpendapat bahwa Dokter itu tidak hanya mengurus orang sakit tapi juga mengurus bangsa yang sakit.

Intinya dokter itu mempunyai peran sebagai agent of treatment, agent of change dan agent of development.

Lalu kesadaran berpartai politik pertama kali yang disebut dengan Indische Partij ada dr.

Tjiptomangunkusumo dan mahasiswa Stovia bapak Soewardi Soerjaningrat yang akhirnya menjadi tokoh Taman Siswa yang dikenal sebagai Penggerak Pendidikan Nasional.

Baca juga: Presiden Buka Muktamar IDI

Baca juga: Muktamar IDI Dibuka, Diikuti 1.500 Dokter dari 34 Provinsi

Sedangkan di era disrupsi seperti sekarang, dimana di bidang Kesehatan, Dokter Indonesia dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi Ke dokteran yang berkembang sangat pesat.

Diperlukan regulasi dalam bidang Pendidikan yang bisa memberikan kesempatan kepada banyak dokter termasuk afirmasi pendidikan dari golongan yang tidak mampu, kemudahan untuk melanjutkan pendidikan, pembiayaan yang murah dan fasilitasi kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan spesialis atau non spesialis di dalam dan luar negeri.

Kesenjangan atau gap teknologi di bidang pelayanan Kesehatan juga jadi pemikiran.

Pertanyaan tentang pendidikan ke dokteran di Indonesia ini apakah berorientasi kepada melayani pasien Asuransi Kesehatan atau mendorong Dokter Indonesia berkembang sesuai dengan tuntutan ilmu dan teknologi saat ini? Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh, serta dukungan pemerintah untuk meningkatkan pembiayaan Kesehatan, baik biaya pendidikan di bidang kesehatan maupun pembiayaan untuk pelayanan Kesehatan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved