Breaking News:

Berita Banda Aceh

Aktivis Dayah Kritik Gowes Tour de Aceh, Pakai Celana Pendek dan Melanggar Syari'at Islam

Teuku Zulkhairi mengatakan, semua pihak seharusnya dapat menghargai aturan-aturan Syari'at Islam di Aceh, termasuk pihak luar Aceh.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE/SERAMBI ON TV
Aktivis Dayah Aceh yang juga Ketua I Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Dr Teuku Zulkhairi 

Aktivis Dayah Kritik Gowes Tour de Aceh, Pakai Celana Pendek dan Melanggar Syari'at Islam

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Aktivis Dayah Aceh yang juga Ketua I Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Dr Teuku Zulkhairi mengkritik parade gowes Tour de Aceh Etape yang dibuka Sekretariat Daerah Aceh, dr Taqwallah.

Pasalnya, sebagian foto yang beredar peserta gowes terlihat menggunakan celana pendek sehingga auratnya terlihat jelas.

Ia pun meminta pihak penyelenggara agar mematuhi dan memberikan penjelasan tentang Syariat Islam kepada para peserta.

"Meskipun peserta acara gowes ini datang dari provinsi luar Aceh juga, tapi seharusnya pihak penyelenggara dapat memberikan penjelasan tentang aturan Syari'at Islam di Aceh khususnya dalam hal ini aturan menutup aurat, " ujar Teuku Zulkhairi yang juga akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry ini, Selasa (17/5/2022).

Teuku Zulkhairi mengatakan, semua pihak seharusnya dapat menghargai aturan-aturan Syari'at Islam di Aceh, termasuk pihak luar Aceh.

Ia menegaskan, hukum menutup aurat di Aceh bukan hanya diperuntukkan untuk perempuan, melainkan kaum lelaki juga berlaku.

Menurut Zulkhairi, sekilas mungkin ini persoalan kecil.

Baca juga: Wulan Guritno Kagumi Lhokseudu dan Kuah Beulagong

Baca juga: Tour de Aceh 2022 Wujud Promosi Wisata di Aceh Tengah, Pesepeda Kayuh Sepeda di Danau Lut Tawar

Tetapi jika hal ini menjadi hal lumrah dan biasa, maka lama kelamaan identitas Aceh sebagai Provinsi yang berlaku Syari'at Islam akan semakin sirna.

"Dan pejabat harus menjadi teladan dalam ketundukan kepada aturan Syari'at Islam dalam hal menutup aurat ini,” katanya.

“ Tidak salah apabila pejabat kita mengingatkan peserta gowes bahwa Aceh ini Provinsi yang berlaku Syari'at Islam dimana membuka aurat di depan umum adalah hal terlarang," ujar Zulkhairi.

Apalagi, sambungnya, umat muslim seharusnya sadar batasan aurat laki-laki dan perempuan.

Zulkhairi mengatakan, akhir-akhir ini kaum laki-laki di Aceh semakin gemar memakai celana pendek di depan publik dan sepertinya situasi ini sangat sulit dihentikan.

Aneh karena terjadi paradoks antara Syari'at Islam dengan fenomena di lapangan.

Baca juga: Berkeliling Danau Laut Tawar, Peserta Tour de Aceh Lalui Beberapa Destinasi Wisata

"Jangan-jangan fenomena laki-laki bercelana pendek di depan umum ini sulit dihentikan karena memang sejalan dengan agenda merusak identitas Syari'at Islam di Aceh seperti halnya gowes dengan celana pendek itu?," kata Zulkhairi mempertanyakan.

Teuku Zulkhairi mengingatkan pihak-pihak terkait untuk betul-betul pro aktif mendukung Syari'at Islam di Aceh sebagai suatu keistimewaan yang dimiliki oleh daerah Aceh.

Ia juga mengatakan bahwa Syari'at Islam di Aceh berlaku untuk semuanya. Bukan untuk masyarakat kelas bawah saja sementara yang memiliki kedudukan jabatan tidak berlaku.

"Kalau kita orang Aceh sendiri tidak mau hargai Syari'at Islam di Aceh, apakah mungkin orang luar akan menghargainya?," ujar Zulkhairi mengingatkan. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved