Breaking News:

Internasional

Pengungsi Anak Tunggal Afghanistan di Inggris Terabaikan, Pengungsi Ukraina Diutamakan

engungsi anak tunggal asal Afghanistan mulai terabaikan hak-haknya di Inggris. Anak itu harus menunggu sampai dua kali lipat untuk bergabung dengan

Editor: M Nur Pakar
AFP
Seorang anak tunggal di sebuah kamp pengungsi Eropa timur. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Pengungsi anak tunggal asal Afghanistan mulai terabaikan hak-haknya di Inggris.

Anak itu harus menunggu sampai dua kali lipat untuk bergabung dengan anggota keluarga di Inggris.

Kebijakan itu diambil, seusai Inggris memprioritaskan memproses visa untuk anak Ukraina, lapor surat kabar The Independent, Selasa (17/5/2022).

Masa tunggu layanan visa selama 12 minggu telah melonjak menjadi 24 minggu.

Dimana, seorang bocah lelaki Afghanistan berusia 14 tahun diperingatkan mungkin perlu menunggu hingga enam bulan untuk bergabung dengan keluarganya di Inggris.

Bocah itu telah tinggal di sebuah kamp pengungsi di Eropa timur setelah melarikan diri dari negara yang dilanda perang tahun lalu ketika Taliban menggulingkan pemerintahan yang didukung Barat.

Baca juga: Ibu Negara Ukraina Ucapkan Terima Kasih ke Polandia, Pengungsi Negaranya Diperhatikan Dengan Baik

Saudara laki-lakinya sudah berada di Inggris, tetapi remaja itu telah diperingatkan, mungkin harus menunggu lebih lama dari yang diperkirakan sebelum dapat bergabung dengannya.

The Independent telah melihat email dari layanan visa Inggris ke pengacara anak laki-laki itu yang mengatakan memprioritaskan aplikasi skema visa Ukraina.

Hal itu berarti, pelamar dari tempat lain akan mengalami beberapa penundaan dalam pemrosesan aplikasi mereka.

Dia menambahkan telah membuat keputusan untuk sementara mengubah standar layanan pernikahan dan keluarga menjadi 24 minggu, dari standar layanan yang biasa untuk rute 12 minggu ini.

Perubahan tersebut mulai berlaku pada 11 Mei 2022 dan Kementerian Dalam Negeri belum mengomentari jumlah anak tanpa pendamping yang akan terkena dampaknya.

Beth Gardiner-Smith, Kepala Sksekutif di Safe Passage International, mengatakan sangat membuat frustrasi", anak-anak yang menderita dalam situasi genting di Eropa mengalami waktu tunggu yang lama.

Baca juga: Sekjen OKI Serukan Anggota Bantu Pengungsi, Keluarga Telantar dan Palestina

Dia mengaku khawatir keterlambatan dalam aplikasi reuni keluarga ini dapat menyebabkan beberapa anak kehilangan kepercayaan dalam proses.

Sehingga, akan berusaha melakukan perjalanan berbahaya, alih-alih untuk mencapai keluarga mereka.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved