Rabu, 22 April 2026

Konflik Satwa

Kamera Udara Rekam Aktivitas Kawanan Besar Gajah di Aceh Timur

Dia mengatakan tujuan "berburu" habitat gajah ini untuk melindungi hewan itu dari perburuan serta mencegah konflik dengan masyarakat.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Dok FKL
Kawanan gajah terekam kamera berada di Peunaron, Aceh Timur. Pemerintah diharapkan melakukan kebijakan untuk melindungi satwa ini sekaligus menghindarkannya dari konflik dengan masyarakat. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Forum Konservasi Leuser (FKL) berhasil merekam aktivitas kelompok gajah di Gampong Srimulya, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur.

Rekaman yang diambil pada Minggu (15/5/2022) itu menunjukan aktivitas sepuluh ekor gajah yang sedang makan dedaunan.

Pegiat Konservasi FKL, Rudi Putra mengatakan pihaknya mendapatkan keberadaan kawanan gajah itu setelah menelusuri hutan Aceh Tamiang hingga Aceh Timur.

Dia mengatakan tujuan "berburu" habitat gajah ini untuk melindungi hewan itu dari perburuan serta mencegah konflik dengan masyarakat.

"Kedua belah pihak harus diuntungkan, jangan ada lagi pihak yang menjadi korban dalam persoalan ini," kata Rudi, Kamis (19/5/2022).

Polres Aceh Tenggara Selidiki Kematian Gajah di Leuser, Saksi Diperiksa, Pemilik Lahan Dicari

Sebab kata Rudi, kasus kematian tertinggi gajah di Aceh masih disebabkan perburuan gading dan konflik lahan dengan masyarakat.

"Tahun lalu masih ada pihak yang ditangkap atas perburuan gajah, ini jangan terulang lagi," harapnya.

Saat ditemukan, kawanan gajah berada di dua lokasi, pertama kawasan hutan dan kedua Areal Penggunaan Lain (APL) yang sempat dikelola menjadi perkebunan kelapa sawit.

Meski di kamera hanya terlihat sepuluh ekor gajah, Rudi meyakini keberadaan gajah di wilayah itu mencapai 30 hingga 40 ekor.

"Yang menggembirakan, dari kawanan itu terlihat ada anak gajah. Artinya perkembang-biakan berjalan," kata Rudi.

Sementara Frans Tambunan, operator drone yang merekam keberadaan gajah mengungkapkan video itu direkamnya dari ketinggian 30 meter. Selain menangkap objek gajah, Frans yang merupakan Manajer PT Socfindo juga merekam kotoran gajah untuk dijadikan bahan penelitian kesehatan gajah.

Dia berharap keberadaan gajah ini bisa disikapi pemerintah agar bisa berkembang biak dengam baik tanpa harus bersinggungan dengan penduduk. Pasalnya kata dia, keberadaan gajah ini hanya berjarak 800 meter dari permukiman penduduk. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved