Breaking News:

Sabang

Kakanwil Ditjen Bea Cukai Aceh: Majukan Sabang Harus dengan Produk Unik dan Tahan Lama

Safuadi mengatakan, Sabang pernah terkenal dengan sebuah produk makanannya. Setiap orang pulang dari wisata ke Sabang, selalu membawa pulang makanan t

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Kakanwil Ditjen Bea Cukai Aceh, Dr Safuadi mengatakan, volume ekspor komoditi turunan minyak kelapa sawit dari Aceh yang diekspor ke luar negeri melalui pelabuhan laut lokal di Aceh untuk periode Januari – Juni 2022, sudah mencapai 3.707 metrik ton dengan nilai 3,343 juta dollar AS, atau senilai Rp 46,8 miliar. 

Di Sabang, kata Safuadi, perlu dibangun berbagai industri makanan perikanan. Produk  makanan perikanan yang diproduksi harus bisa tahan lama dan bernilai ekonomi yang kompetitif dengan produk dari luar negeri.

Karena, kalau pengelola Sabang masih tetap mengandalkan status skema perdagangan bebas, menurut Safuadi tidak lagi menarik bagi dunia angkutan laut. Sebab Conventional Costy Production, dianggap sudah tidak efektif lagi. Alasannya, karena harus mendeploy banyak orang di lokasi produksi.

Singapura, kata Safuadi, sudah mulai keteter sebagai pusat Produksi Jasa “Re Added Value“, dengan biaya gudang yang mahal. Sekarang setiap orang bisa pesan sendiri ke seluruh dunia untuk semua produk manufaktur.

Yang bisa bertahan saat ini, kata Safuadi, adalah negara yang sudah lebih awal menggunakan teknologi produksi murah, seperti Cina dan India. Buktinya produk Hp dari Cina, memang murah, dan tidak tahan lama, tapi produknya tetap dicari dan dibeli banyak orang.

Jadi, kata Safuadi, kalau Sabang mau maju, jangan masuk ke industri manufaktur, melainkan ke produk unik yang tidak bisa ditiru, seperti produk hasil alam, ikan dan hasil perkebunan. Seperti industri rokok. Tembakau tidak bisa hidup di negara bermusim salju, makanya perlu membesarkan industri rokok lokal yang ada di Aceh, menjadi industri rokok cerutu, keretek dan filter, bercita rata tinggi, agar bisa diekspor ke berbagai negara bermusim salju. Kalau dibangun pabrik rokok di Sabang, bisa mengimbangi pemasaran rokok di negara-negara ASEAN, karena bisa menjual dengan harga murah, tapi dengan cita rasa kualitas yang tinggi.

Aceh punya komoditi kopi, coklat dan pinang. Komoditi ini diolah menjadi produk siap saji, sehingga nilai ekonomisnya jadi tinggi dan nilai tambahnya dinikmati oleh masyarakat Aceh.

“Kita jangan lagi ekspor bahan mentah ke luar negeri. Produk ekspor yang bertahan saat ini adalah  Food, Energi dan Water, karena ia merupakan kebutuhan hidup manusia,” kata Safuadi.

Oleh karena itu, kata Safuadi, bagusnya Sabang dan Aceh secara menyeluruh, diarahkan ke sana, bukan produk makanan tambahan, melainkan makanan pokok, karena kekurangan pangan makanan pokok di dunia sudah mulai dirasakan berbagai negara maju.

Contohnya kekurangan tepung terigu, dampak dari perang Rusia dengan Ukraina. Kemudian biji bunga matahari.

Selanjutnya suplai ayam ke Singapura dan lainnya. Malaysia sudah menyetop ekspor ayam hidup ke Singapura, karena kebutuhan dalam negerinya belum mencukupi. “ Peluang pasar itu, perlu kita yang mengisinya dari Sabang, termasuk ekspor olahan ikan segar dan kaleng,” ujar Safuadi.(*)   

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved