Breaking News:

Konflik Rusia vs Ukraina

Shaun Pinner Tentara Bayaran Inggris, Minta Hukuman Matinya Dikuranggi Jadi Penjara Seumur Hidup

Pinner, berasal dari Bedfordshire, diyakini pindah ke Ukraina empat tahun lalu dan tinggal bersama istrinya di Donbas.

Editor: Faisal Zamzami
Daily Mail
Shaun Pinner, prajurit Inggris kedua yang ditangkap Rusia saat membantu pasukan Ukraina di Mariupol. 

SERAMBINEWS.COM -- Seorang tentara Inggris yang berjuang untuk Ukraina di kota pelabuhan Mariupol minta hukuman matinya dikurangi.

Shaun Pinner mengatakan dia bertempur bersama marinir Ukraina ketika pasukan Rusia menyerbu.

Pinner, berasal dari Bedfordshire, diyakini pindah ke Ukraina empat tahun lalu dan tinggal bersama istrinya di Donbas.

Mantan tentara Royal Anglian Regiment ini pada Januari lalu mengatakan, ia bertugas di area parit 10 mil di luar Mariupol.

Shaun Pinner, seorang warga negara Inggris yang ditangkap yang telah berjuang untuk Angkatan Darat Ukraina, telah mengajukan banding atas hukuman matinya.

Pembelaan tentara bayaran tersebut diumumkan oleh pengadilan tinggi di Republik Rakyat Donetsk (DPR) mengatakan kepada TASS pada hari Rabu.

Pengadilan sekarang memiliki waktu hingga dua bulan untuk meninjau putusan.

Baca juga: VIDEO UPDATE PERANG RUSIA: Hampir 2.000 Tentara Bayaran di Ukraina Pilih Kabur Selamatkan Diri

Menurut kantor berita TASS yang dikutip Russia Today, pengacara Pinner yang ditunjuk secara lokal meminta pengadilan untuk mengurangi hukuman menjadi penjara seumur hidup.

Pinner ditangkap oleh pasukan Rusia dan Donbass selama pengepungan Mariupol, dan dituduh oleh DPR sebagai tentara bayaran dan mengobarkan perang ilegal melawan republik.

Dia dijatuhi hukuman mati bulan ini bersama dengan warga negara Inggris lainnya, Aiden Aslin, dan Saadoun Brahim, yang berasal dari Maroko.


Pemerintah Inggris mengatakan "terkejut" dengan putusan itu dan berjanji akan memperjuangkan pembebasan Pinner dan Aslin.

Menteri Luar Negeri Liz Truss mengatakan bahwa Aslin dan Pinner harus diperlakukan sebagai tawanan perang, bukan tentara bayaran, dan menyebut persidangan mereka di Donetsk sebagai "penilaian palsu yang sama sekali tidak memiliki legitimasi."

Kremlin berpendapat bahwa persidangan itu sendiri dan hukuman adalah urusan dalam negeri DPR.

Andrey Kelin, duta besar Rusia untuk Inggris, mengatakan pekan lalu bahwa ia telah menerima surat "menghina dan merendahkan" dari London mengenai dua warga Inggris yang ditangkap.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved