Breaking News:

Kurban 2022

Kurban dan Edukasi Keshalehan Sosial

Perayaan Idul Adha atau dikenal juga dengan Hari Raya Idul Qurban yang dilakukan setiap 10 Dzulhijjah

Editor: Syamsul Azman
Serambi on TV
Kurban dan Edukasi Keshalehan Sosial - Oleh; Muhammad Syarif, S.Pd.I, MA 

Oleh; Muhammad Syarif, S.Pd.I, MA
Ketua Prodi KPI Universitas Serambi Mekkah, Pengurus DPP ISAD Aceh & Mahasiswa S3 Fiqh Modern Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Qurban berasal dari bahasa arab Asal katanya “Qaraba” yang berarti mendekatkan diri. Maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan harta benda, kekayaan, dengan ilmu pengetahuan, pemikiran, tenaga, jerih payah, wibawa, pengaruh sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam rangka taqarrub illallah (mendekatkan diri kepada Allah).

Lebih khusus qurban adalah menyembelih binatang ternak dengan memperhatikan syarat-syarat atau kriteria tertentu yang dagingnya dibagikan kepada kaum muslimin dan terkhusus kepada fakir miskin yang meminta atau tidak sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah dan sekaligus sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah.

Perayaan Idul Adha atau dikenal juga dengan Hari Raya Idul Qurban yang dilakukan setiap 10 Dzulhijjah dalam penanggalan Hijriah tidak lepas dari peristiwa Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail.

Waktu itu, Nabi Ibrahim di perintahkan oleh Allah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail. Kisah ini terabadikan dalam Al Quran, Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.

Baca juga: 5 Cara Menyimpan Daging Kurban di Kulkas Agar Awet dan Segar, Jangan Lakukan Ini pada Daging

Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Selamat sejahtera bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. As-Saffat [37]: 102-110).

Dalam tafsir Al-Qurthubi dikatakan bahwa sebenarnya Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut. Malam yang pertama, malam 8 Dzulhijjah. Tapi ketika itu Nabi Ibrahim masih ragu dengan mimpi tersebut. Apakah ini mimpi dari Allah.

Perintah Allah ataukah hanya sekedar hiasan tidur belaka. Pada malam yang kedua, malam 9 Dzulhijjah beliau bermimpi lagi, mimpi yang sama, beliau belum juga melaksanakan perintah itu karena masih mengkaji lebih jauh tentang kebenaran mimpi itu. Tapi malam ketiganya beliau bermimpi lagi, malam 10 Dzulhijjah, dengan mimpi yang sama.

Barulah beliau sangat yakin bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi belaka, tetapi sudah merupakan perintah Allah yang mutlak harus dilakukan oleh seorang hamba dan seorang rasul. Karenanya pada hari kesepuluh dikatakan sebagai hari nahar atau hari penyembelihan. Walaupun Allah menukar sembelihan tadi dengan seekor kibas yang besar.

Dalam kajian fiqh hukum berqurban adalah sunnah tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi'i, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan lainnya berkata, "qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji".

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved