Breaking News:

Internasional

Pria Afghanistan Mantan Penterjemah Tentara Inggris Tuduh London Khianati Istrinya

Seorang pria Afghanistan yang bertugas sebagai penerjemah pasukan Inggris merasa dikhianati setelah Inggris menolak mengizinkan istrinya masuk

Editor: M Nur Pakar
AFP/WAKIL KOHSAR
Anggota unit militer Taliban Badri 313 mengamankan bandara mengenakan seragam militer AS, di Kabul, Selasa (31 Agustus 2021), setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari negara itu untuk mengakhiri perang brutal selama 20 tahun -- perang yang dimulai dan diakhiri dengan kelompok Islam garis keras. Dalam kekuatan. (Wakil KOHSAR/AFP) 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Seorang pria Afghanistan yang bertugas sebagai penerjemah pasukan Inggris merasa dikhianati setelah Inggris menolak mengizinkan istrinya masuk ke negara itu.

Hafizullah Husseinkhel (31) meninggalkan Afghanistan pada 2014 setelah bertugas di Provinsi Helmand.

Di mana, prilakunya dipuji dan dia digambarkan sebagai anggota tim yang penting.

Istri, ibu dan ayahnya tetap tinggal setelah dia menerima ancaman pembunuhan dari Taliban.

Sementara ayahnya meninggal dunia pada Juni 2021,

Kementerian Pertahanan Inggris mengindikasikan pada Oktober 2021, istri dan ibunya dapat memenuhi syarat bergabung dengan Husseinkhel di Inggris.

Di bawah Program Bantuan Relokasi Afghanistan yang didirikan setelah Taliban mengambil alih tanah air mereka pada 15 Agustus.

Baca juga: Pemimpin Taliban Tegaskan Tanah Afghanistan Bukan Tempat Serangan ke Negara Lain

Mereka telah tinggal di sebuah hotel di ibu kota Pakistan, Islamabad, atas biaya Komisi Tinggi Inggris sejak Januari 2022 dan izin tinggal mereka telah habis masa berlakunya.

Namun, relokasi mereka ke Inggris sekarang diragukan.

Setelah Kantor Dalam Negeri Inggris mengindikasikan permohonan suaka dari istrinya yang berusia 25 tahun dengan alasan reuni keluarga.

Sehingga, mereka tidak percaya, hubungan mereka menjadi asli dan berkelanjutan.

Istri Husseinkhel juga tidak dipertimbangkan untuk ditempatkan di ARAP oleh Kementerian Dalam Negeri, meskipun telah diterima oleh Kementerian Pertahanan.

Sedangkan aplikasi ibunya saat ini masih dalam proses.

Dia sekarang khawatir akan dideportasi kembali ke Afghanistan.

Baca juga: 180 Guru British Council Masih Terjebak di Afghanistan, Terancam Dihukum Oleh Taliban

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved