Breaking News:

Kupi Beungoh

Ayah Buet Ek U, Aneuk Harus Jadi Toke U

Mata rantai kemiskinan perlu diputus secara terencana. Jika hal ini tidak dipikirkan secara serius, maka akan terjadi pewarisan kemiskinan

Editor: Amirullah
For Serambinews
Penulis Hasan Basri M Nur (dua kiri), Tgk Muchtar Ahmad (tengah), Mustafa (dua kanan) dan Wahidin (kanan) 

Oleh: Hasan Basri M. Nur

Mata rantai kemiskinan perlu diputus secara terencana. Jika hal ini tidak dipikirkan secara serius, maka akan terjadi pewarisan kemiskinan secara turun-temurun.

Demikian intisari pesan Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Pidie, Tgk Muchtar Ahmad, pada pembukaan FGD bertema “Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal” yang digelar Badan Kesbangpol Aceh di Sigli, Rabu (20/7/2022).

Muchtar Ahmad mendorong agar anak-anak untuk memilih pendidikan dan pekerjaan yang lebih bagus dan bermutu dari orangtua mereka.

Jangan sampai kalau ayah hanya tamat SMP, maka anak pun harus tamat SMP.

“Mari kita dorong agar anak-anak harus lebih maju dari orangtunya mereka. Mari kita dorong agar anak-anak lebih kreatif. Ini adalah salah satu cara memutus mata rantai kemiskinan,” kata Muchtar Ahmad dalam orasinya.

“Jika ayah berprofesi sebagai tukang ek u (buruh panjat pohon kelapa), maka aneuk harus jadi toke u (saudagar kelapa), bukan lagi sekedar buruh ek u,” tegas Tgk Muchtar yang dikenal sebagai da’i kondang di Pidie.

Lalu, generasi berikutnya (cucu) harus menjadi eksportir kelapa atau memiliki pabrik minyak kelapa. Mereka semua tetap bekerja di sektor boh u (kelapa).

Dengan visi seperti ini akan terencana aksi pemutusan mata rantai kemiskinan.

FGD itu menghadirkan narasumber Wahidin (pelaku usaha di Pidie) dan saya sendiri selaku pengurus Forum Komunikasi Jejaring Pemagangan (FKJP) Aceh dan dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved