Breaking News:

Kupi Beungoh

Aceh dan Kepemimpinan Militer (I) - Dari  Klasik Hingga Kontemporer

Di Aceh dan Papua, penunjukan aparat keamanan menjadi pejabat pemerintahan seringkali disoroti dengan menggunakan perspektif  “kawasan konflik”

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof Dr Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Terlepas dari berbagai bukti empirik, secara lebih sederhana yang dimaksud dengan kepemimpinan militer dalam tulisan ini adalah pemimpin yang mempunyai latar belakang militer, maupun yang mempunyai corak pemerintahan “millitary style leadership”- gaya kepemimpinan militer yang dapat saja dilakukan oleh pemimpin dari kalangan sipil.

Baca juga: Pj Gubernur Aceh: Aceh Bermartabat karena Dukungan Ulama, Ini Harapan Tu Sop kepada Achmad Marzuki

Ada banyak deretan nama pemimpin atau kepemimpinan militer yang pernah dialami Aceh semenjak  masa Aceh klasik sebelum zaman kolonial, pada masa kolonial, pada masa awal kemerdekaan, dan pada masa Orde Baru.

Mereka memimpin dalam tantangan dan semangat zaman yang di dalamnya berlaku hukum kebaharuan, gagal, atau berhasil.

Jika sejarah Aceh klasik dibuka dengan melihat kepada keberadaan dan kiprah para pemimpinnya, maka paling kurang didapatkan tiga orang yang mempunyai wawasan ke militeran yang sangat kuat.

Memang benar, aksioma kerajaan dan raja pada masa dahulu, bahwa raja disamping kepala pemerintahan, adalah panglima perang yang sesungguhnya.

Raja tidak hanya pimpinan militer “de jure”, tetapi pada raja juga melekat  predikat petempur, ahli strategi, dan bahkan panglima perang lapangan yang sesungguhnya.

Dalam konteks Aceh klasik, terutama mengikuti senarai kerajaan Aceh, dari 33 Sultan yang pernah memerintah, paling kurang terdapat 3 orang yang sangat layak disebut raja “tentara”.

Ketiga mereka tercatat dan diakui sebagai individu yang mempunyai wawasan ke militeran, mempunyai nyali untuk bertempur, dan bahkan menjadi panglima perang yang diakui dan ditakuti oleh lawan yang paling tangguh sekalipun.

Mereka adalah Ali Mughayatsyah, Alaidin Riayat Syah Al Qahhar, dan Iskandar Muda.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXIV) - Salahkah Putin Menuduh Barat Salah?

Mereka mempunyai pertalian darah, baik sebagai anak dan cucu, sehingga tidak heran DNA perang yang dimiliki oleh yang tertua menurun kepada keturunan berikutnya.

Ketika Belanda memerangi Aceh pada dekade ke delapan abad ke 19, praktis praktik penjajahan total seperti yang diterapkan di kawasan lain di Indonesia, tidak dengan serta merta dapat diterapkan di Aceh.

Aceh tidak pernah aman dan nyaman bagi Belanda.

Sebagian besar kekuatan Belanda digunakan untuk memberantas perang gerilya.

Hampir semua penguasa Belanda untuk Aceh -gubernur, yang ditunjuk adalah militer Belanda.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved