Breaking News:

Berita Jakarta

Begini Gambaran Keberanian Orang Gayo Melawan Penjajah Belanda, Rela Jalan Kaki Ratusan Kilometer

"Untuk melawan penjajah, orang Gayo rela berjalan kaki ratusan kilometer ke Medan Area untuk menghalau agresi Belanda," kata Salman Yoga.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Salman Yoga, Seniman dan Peneliti Budaya Gayo. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Budayawan Gayo yang juga akademisi, Dr Salman Yoga, S, MA melukiskan keberanian dan keteguhan gayo' title='orang Gayo'>orang Gayo saat melawan kolonial Belanda.

Bukan hanya di kampung sendiri, melainkan banyak yang justru berperang dengan Belanda di luar daerahnya.

"Untuk melawan penjajah, gayo' title='orang Gayo'>orang Gayo rela berjalan kaki ratusan kilometer ke Medan Area untuk menghalau agresi Belanda," kata Salman Yoga menjawab Serambinews.com, Selasa (2/8/2022), terkait dengan peran gayo-melawan-belanda' title='orang Gayo melawan Belanda'>orang Gayo melawan Belanda.

Sebelumnya, sejarawan UIN Syarif Hidayatullah, Johan Wahyudi dalam Bincang Sejarah Pusat Kajian Kebudayaan Gayo menemukan dokumen bahwa gayo' title='orang Gayo'>orang Gayo ikut melatih pasukan Kerajaan Raya Simalungun untuk melawan Belanda.

Salman Yoga S yang juga dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Pimpinan Lembaga The Gayo Institute (TGI) menyampaikan, kesetiaan gayo' title='orang Gayo'>orang Gayo dalam melawan penjajahan tidak perlu diragukan lagi.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan para pejuang Gayo turut andil dalam pertempuran-pertempuran di luar daerahnya sendiri.

Baca juga: Mau Tahu Peran Orang Gayo Menghadapi Belanda? Ikuti Bincang Sejarah Pusat Kajian Kebudayaan Gayo

“Sisingamaraja, raja dari Negeri Toba (1845–1907), dalam sejarah dan usahanya melawan kolonial Belanda pernah meminta bantuan pasukan ke tanah Aceh dan Gayo,” terang dia.

“Demikian juga dengan pejuang Tuan Rondahaim  dari tanah Simalungun, pernah meminta bantuan pelatihan pasukan perang dari tanah Aceh dan Gayo,” ujar Salman yang juga penyair dan pengarang naskah drama.

Paska Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, penjajah Belanda masih melancarkan agresinya di sejumlah kota dan wilayah pada tahun 1947-1948.

“Dan pasukan berani mati dari tanah Gayo turut bertempur di sejumlah tempat dalam perang Medan Area,” bebernya.

“Pasukan Gayo membantu, bukan saja masuk dari pantai timur dengan sejumlah kesatuan, tetapi juga masuk dari arah tenggara dengan pasukan Bagura pimpinan Tgk Ilyas Leube dan Tgk Saleh Adri,” terang dia.

“Sejumlah pejuang Gayo gugur bukan di tanah kelahirannya. Pang Aman Dimot misalnya, gugur dalam sebuah pertempuran di tanah Karo dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe,” demikian Salman Yoga.

Baca juga: Cara Hormat Orang Gayo: Tangan Kanan Menggenggam Tangan Kiri dengan Ibu Jari Sejajar

Salman Yoga adalah pembanding pada saat pembahasan tentang sosok Tuan Rondahaim yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2020.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved