Breaking News:

Berita Gayo Lues

Kasus Penganiayaan Adik Ipar Dihentikan, Korban Bersedia Berdamai

Kejaksaan Negeri (Kejari) Gayo Lues menghentikan penuntutan kasus perkara penganiayaan yang terjadi di Kecamatan Blangkejeren

Editor: bakri
Kompas.com/ERICSSEN
Ilustrasi 

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri (Kejari) Gayo Lues menghentikan penuntutan kasus perkara penganiayaan yang terjadi di Kecamatan Blangkejeren.

Kasus penganiayaan itu terjadi pada 24 Mei 2022 lalu, dimana korban LA (50) dianiaya tersangka MA (59) yang tak lain adalah abang ipar korban.

Aksi penganiayaan yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB itu berawal dari hal sepele, gegara bebek milik korban LA masuk ke persawahan MA.

Hal itu langsung menyulut emosi tersangka dan memukul korban dengan tangan dan potongan kayu.

Selain memiliki hubungan adik dan abang ipar, keduanya juga tinggal di desa yang sama, Desa Leme, Kecamatan Blangkejeren.

Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka memar di bagian kepala dan bagian mata sebelah kanan.

Karena tindakan penganiayaan itu, korban pun melaporkan kasus tersebut ke Polres Gayo Lues.

Atas laporan itu, polisi kemudian mengamankan MA.

Baca juga: Pengakuan Syarif Tega Bunuh Adik Ipar dan Rudapaksa Korban 2 Kali: Saya Cinta Dia, Bukan Kakaknya

Baca juga: Pria di Lampung Rudapaksa Adik Ipar yang Masih Remaja, Korban Diberi Rp 1 Juta dan Diancam Bunuh

Namun penuntutan perkara kasus penganiayaan tersebut dihentikan pihak Kejaksaan Negeri Gayo Lues, melalui upaya Restorative Justice, berlangsung di ruang Mediasi Kejari, Selasa (9/8/2022).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Gayo Lues, Ismail Fahmi didampingi Kasi Intelijen, Handri SH, Selasa (9/8/2022) mengatakan, penuntutan kasus perkara penganiayaan yang dilakukan tersangka MA terhadap korban LA dipicu masuknya bebek milik korban ke persawahan tersangka.

“Penuntutan perkara tersebut sudah dihentikan penyidik melalui upaya Restorative Justice,” katanya.

Dikatakan, tersangka MA diduga melanggar pasal 351 ayat 1 KHUPidana yang berkaitan dengan penganiayaan, sehingga tersangka disangkakan diancam pidana penjara tidak kurang dari 5 tahun penjara.

Namun dalam perjalanan perkara tersebut, tersangka dan korban melakukan upaya kesepakatan berdamai tanpa syarat, sehingga dalam perkara tersebut JPU mengajukan upaya penyelesaian perkara itu melalui upaya Restorative Justice.

"Ternyata tersangka dengan korban masih memiliki hubungan keluarga, dimana korban LA merupakan adik ipar dari tersangka MA ini,"sebutnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved