Kamis, 16 April 2026

Konsultasi Agama Islam

Permasalahan Seputar Shalat Jamak dan Qasar - Konsultasi Agama Islam

Batas mulai boleh jama' & qashar, karena ada yang pendapat boleh di rumah jika sudah jadi musafir.

Editor: Syamsul Azman
SERAMBINEWS.COM/ ISAD
Jawaban atas pemasalahan shalat jamak dan qasar - konsultasi agama Islam 

Konsultasi Agama Islam Kerjasama Serambi Indonesia dengan Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD)

Pertanyaan Ke-13

Assalamulaikum wr wb

Tgk Pengasuh Konsultasi Agama Islam Serambi Indonesia.

Saya mau pencerahan tentang sholat jama' dan qashar.

1. Batas mulai boleh jama' & qashar, karena ada yang pendapat boleh di rumah jika sudah jadi musafir.

2. Mestikah diniatkan di awal masuk waktu jika kita rencana Jamal' ta'khir. mohon ustadz jelaskan juga Lafadh niat jamak dan qashar yang benar.

3. Bolehkah bermakmum pada imam yg tidak musafir.

Terima kasih Ustadz, pertanyaan ini, mewakili dari kami komunitas kajian aneuk muda di Arongan Lambalek.

Jamhur Al-Habsyi

Alue Bagok, Arongan Lambalek, Aceh Barat

Pertanyaan akan ditampung oleh tim Ruang Konsultasi Agama Islam untuk di ke kirim ke pangasuh dan ditayangkan di website serambinews.com.
Pertanyaan akan ditampung oleh tim Ruang Konsultasi Agama Islam untuk di ke kirim ke pangasuh dan ditayangkan di website serambinews.com. (SERAMBINEWS.COM)

Jawabannya :

Wa’alaikumussalam wr.wb

Terima kasih Sdr Jamhur al-Habsyi di Alue Bagok Arongan Lambalek Aceh Barat yang telah menjadikan ruang Konsultasi Agama Islam, kerja sama serambinews.com dengan ISAD (Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh) ini sebagai tempat bertanya. Semoga kita semua dan para pembaca Konsultasi Agama Islam serambinews.com ini selalu mendapat ridha Allah Ta’ala.

Adapun jawabannya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.  Yang menjadi landasan kebolehan jama’ dan qashar shalat pada waktu melakukan perjalanan antara lain firman Allah Ta’ala berbunyi :

وَإِذَا ‌ضَرَبۡتُمۡ ‌فِي ‌ٱلۡأَرۡضِ ‌فَلَيۡسَ ‌عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَقۡصُرُواْ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ

Apabila kamu berpergian di bumi, maka tidak berdosa bagimu untuk mengqashar shalat jika kamu takut diserang orang-orang yang kufur. (Q.S. An-Nisa’ : 101)

dan berdasarkan perbuatan Nabi SAW yang diriwayat oleh Ibnu Umar yang berbunyi :

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ ‌جَمَعَ ‌بَيْنَ ‌الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila berpergian, maka beliau melakukan jama’ antara shalat magrib dan Isya. (H.R. Muslim)

Berpergian yang dimaksud di sini adalah perjalanaan panjang. Karena potensi kesukaran hanya terdapat dalam perjalanan panjang. Adapun ukuran perjalanan panjang menurut Mazhab Syafi’i adalah perjalanan dalam ukuran dua marhalah, yakni empat puluh delapan mil Hasyimiyah.(Majmu’ Syarah al-Muhazzab IV/325) atau 80,640 km dalam ukuran kilo meter. (Fiqh Islam karya Sulaiman Rasyid : 120)

Adapun batasan dibolehkan jama’ dan qashar adalah setelah keluar dari batas wilayah kemesjidan seseorang (balad jum’at). Dengan demikian, tidak sah jama’ dan qashar shalat selama masih di rumah. Karena belum bersifat dengan melakukan perjalanan (musafir). Jalal al-Mahalli menjelaskan :

)وَمَنْ سَافَرَ مِنْ بَلْدَةٍ) لَهَا سُورٌ (فَأَوَّلُ سَفَرِهِ مُجَاوَزَةُ سُورِهَا) الْمُخْتَصِّ بِهَا

Barangsiapa yang berpergian dari balad yang ada perbatasannya, maka yang dihukum awal berpergiannya adalah melewati perbatasan yang khusus untuk baladnya.(Syarah al-Mahalli I/295)

2.  Apabila seseorang merencanakan melakukan jama’ takkhir (shalat dhuhur dilakukan dalam waktu ‘ashar atau shalat magrib dilakukan dalam waktu ‘isya), maka wajib niat jama’nya dalam waktu pertama minimal pada sisa waktu yang masih memungkinkan dilaksanakan shalat secara ada’ (tunai). Karena apabila tanpa niat jama’ pada waktu pertama, ini artinya orang tersebut meninggalkan shalat tanpa ada qashad membawanya kepada waktu yang kedua. Karena itu, orang ini dihukum berbuat maksiat sebab mengeluarkan shalat dari waktu yang sudah ditentukan syara’ tanpa ada sebab yang dibenarkan syara’. Jalal al-Mahalli menjelaskan :

)وَيَجِبُ كَوْنُ التَّأْخِيرِ) إلَى وَقْتِ الثَّانِيَةِ (بِنِيَّةِ الْجَمْعِ) قَبْلَ خُرُوجِ وَقْتِ الْأُولَى بِزَمَنٍ لَوْ اُبْتُدِئَتْ فِيهِ كَانَتْ أَدَاءً

Wajib keadaan jama’ takkhir kepada waktu kedua dengan niat jama’ sebelum keluar waktu pertama yang masih tersisa waktu seandainya dimulai shalat pada waktu tersebut, maka shalatnya dihukum ada’ (tunai). (.(Syarah al-Mahalli I/307)

3.  Perlu menjadi catatan bahwa niat ada dalam hati. Dengan demikian, lafazh niat bukanlah niat. Lafazh niat dianjurkan untuk menguat atau memudahkan niat yang letaknya dalam hati. Adapun contoh lafazh-lafazh niat jama’ dan qashar adalah sebagai berikut :

a.  Jama’ taqdim dhuhur-‘asar dan qashar

 أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر أداء لله تعالى

Aku menyengaja shalat fardhu dhuhur dua rakaat diqashar serta dijama’ kepadanya shalat asar tunai karena Allah Taala

 أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إلي الظهر أداء لله تعالى

Aku menyengaja shalat fardhu asar dua rakaat diqashar serta dijama’ kepada dhuhur tunai kerana Allah Taala

b.    Jama’ taqdim maghrib – ‘isya dan qashar

 أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إليه العشاء أداء لله تعالى

Aku menyengaja shalat fardhu maghrib tiga rakaat dijama’ kepadanya isya tunai karena Allah Taala

 أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إلي المغرب أداء لله تعالى

 Aku menyengaja shalat fardhu isya dua rakaat diqashar serta dijama’ kepada maghrib tunai karena Allah Taala

c.     Jama’ takkhir ‘ashar-dhuhur dan qasar

 أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إليه الظهر أداء لله تعالى

           Aku menyengaja shalat fardhu asar dua rakaat diqashar serta dijama’  kepadanya dhuhur tunai karena Allah Taala

 أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إلي العصر أداء لله تعالى

           Aku menyengaja shalat fardhu dhuhur dua rakaat diqashar serta dijama’ kepada asar tunai kerana Allah Taala

d.    Jama’ takkhir isya – Maghrib dan qashar

 أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إليه المغرب أداء لله تعالى

            Aku menyengaja shalat fardhu isya dua rakaat diqashar serta dijama’ kepadanya maghrib tunai karena Allah Taala

 أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إلي العشاء أداء لله تعالى

 Aku menyengaja shalat fardhu maghrib tiga rakaat dijama’ kepada isya tunai karena Allah Taala

4.  Pada dasarnya tidak ada larangan seseorang musafir bermakmum kepada imam yang bermuqim (tidak musafir),  hanya saja sesuai dengan penjelasan pengarang Kitab Kifayah al-Akhyar, seorang musafir yang melakukan shalat secara qashar ada ketentuannya sebagai berikut :

a.    Seseorang yang melakukan shalat secara qashar tidak boleh mengikuti imam yang muqim atau orang yang menyempurnakan shalatnya (tidak melakukan qashar). Jika dilakukan juga, maka wajib atasnya menyempurnakan shalatnya sebagaimana imamnya

b.    Jika seorang musafir shalat dhuhur mengikuti imam yang shalat subuh baik imam tersebut dalam keadaan musafir ataupun muqim, maka tidak boleh simusafir melakukan shalat secara qashar. Karena imam tidak melakukan shalat qashar

c.     Jika seseorang melakukan shalat dhuhur mengikuti imam yang shalat jum’at, maka simusafir tidak boleh melakukan shalat qashar.

d.    Jika seorang musafir ragu-ragu apakah imamnya musafir juga atau muqim, maka wajib atasnya menyempurnakan shalatnya

e.    Seorang musafir tidak wajib menyempurnakan shalatnya (boleh melakukan qashar) apabila :

-       Mengikuti imam yang menurut keyakinan atau dugaannya imam tersebut seorang musafir atau menurut keyakinan dan dugaannya imam tersebut melakukan shalat qashar

-       Mengikuti imam yang musafir, akan tetapi tidak diketahui apakah imam tersebut ada meniatkan qashar. Karena dhahir keadaan imam yang musafir ada meniatkan qashar.

-       Demikian juga mengkuti imam yang musafir, kemudian di dalam sela-sela shalatnya datang ragu-ragu apakah imam ada meniatkan qashar. (Kifayah al-Akhyar 138-139)

Wallhua’lam bisshawab

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved