Breaking News:

Kupi Beungoh

Gagalkah Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, Haruskah Dinas Syariat Islam Dileburkan?

Banyak fenomena kerusakan akhlak terjadi di masyarakat membuat sebagian orang melihatnya sebagai tanda-tanda gagalnya pelaksanaan Syariat Islam

Editor: Amirullah
ist
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh. 

Menyedihkan lagi, diantara yang sedikit itu, hanya sebagian kecil yang berdakwah untuk Syariat sebagian lainnya berdakwah untuk kepentingan orang tertentu, kepentingan kelompok tertentu, bahkan ada yang saling menjelekkan meski sesama muslim, berselisih di mesjid,   Ini sikap yang sangat disayangkan sebaiknya diperbaiki.

Fenomena lainnya kita perhatikan banyak anak-anak muda, remaja meninggalkan shalat (kadang shalat, kadang tidak), sementara shalat adalah tiang agama.

Mesjid banyak jumlahnya, jama'ahnya sedikit, ini menjadi salah satu indikator penting  bahwa Syariat Islam sudah banyak yang meninggalkannya.

Lebih penuh warkop atau kafe dibandingksn Mesjid, ini dapat dilihat pada saat pelaksanaan shalat magrib yang waktunya singkat.  Kalau waktu shalat lainnya, bisa di undurkan waktu pelaksanaan agak panjang waktunya.

Fenomena lainnya yang tidak kalah menyedihkan, di Aceh banyak pesantren, namun ketika libur mereka ini para santri sebagian besar kegiatannya berkumpulnya di kafe atau warkop, atau sibuk dengan handphone di rumah, hanya sebagian kecil yang memakmurkan mesjid atau mushalla atau kegiatan positif lainnya.

Baca juga: MENGAJAR Dengan Pendekatan Gaya Belajar Anak Didik,  Akan Lebih Menarik dan Efektif

 Ini menunjukkan kualitas pesantren dia diaceh  perlu mendapat perhatian kita bersama.

Perlu di perhatikan kembali  kompetensi kepribadian para pendidik di dalam nya, sehingga bisa menyiapkan suasana belajar yang mendidik, agar pembelajarannya berkesan,  termotivasi anak melaksanakan apa yang disampaikan oleh para guru atau ustadz.

Bukan mendidik dengan kekerasan,  bukan mendidik dengan hukuman, bukan dengan di buly sebagaimana kita saksikan bersama sekarang ini, harusnya mendidik dengan kasih sayang, jika dibutuhkan hukuman tentunya hukuman yang mendidik.  

Ini dimaksudkan agar anak didik mandiri ibadahnya, mandiri akhlaknya dan mandiri secara keilmuan (pengetahuan dan skiil)

Dalam penelitian lainnya saya dapati sebagian besar mahasiswa belum mampu membaca al Qur'an dengan baik dan benar, seharusnya semenjak SD, anak-anak  dipastikan sudah mampu membaca Al Qur'an dengan baik dan benar

Karena Al Qur'an itu pedoman hidup setiap mereka,  yang harus mereka wariskan kepada anak cucu mereka nantinya, sebagaimana  kewajiban bagi kita sekarang ini  mewariskan kepada mereka.

Baca juga: ISLAM Melarang SIKAP TENTATIF Terhadap Keyakinan Agama

Jika umat Islam tidak bisa membaca Al Qur'an dengan benar, bagaimana ia dapat melaksanakan shalat dengan benar, bagaimana Islam itu bisa tegak dengan kokoh, jika shalat sebagai tiang agama tidak benar.  

Bagaimana umat Islam bisa terjaga dari  perbuatan keji dan munkar Jika shalatnya masih belum benar bacaan-bacaannya.

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.(QS. Al Ankabut : 45).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved