Breaking News:

Kupi Beungoh

Membawa Penikmat Kopi dari Singapore Langsung ke Tanoh Gayo, Mungkinkah?

Berharap siapapun penikmat kopi bisa langsung datang ke Tanoh Gayo..semoga bisa diwujudkan...Aamiin..

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR
Muslim Armas, pengusaha nasional asal Pidie yang menjabat sebagai Ketua Umum Syarikat Alumni Institut Teknologi Bandung (SA-ITB). 

Merespons keinginan Kadis Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal untuk mengolaborasikan hasil kopi dan kepariwisataan menjadi satu kesatuan, alias membawa para penikmat kopi ke Tanoh Gayo, saya mencoba menuliskan beberapa pemikiran berdasarkan pengalaman yang saya alami.

Agar penikmat kopi bisa langsung datang ke Tanah Gayo, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memfasilitasi penerbangan langsung dari Jakarta, Kuala Lumpur, Singapore, Bangkok, dan lain-lain.

Semakin mudah aksesnya, maka akan semakin banyak wisatawan yang datang ke Tanah Gayo.

Hal ini juga berlaku untuk Sabang dan Pulau Banyak, dan daerah-daerah lain yang ingin dimaksimalkan sebagai daerah tujuan wisata.

Pertanyaannya, mungkinkah membawa para penikmat kopi dari luar negeri ini langsung ke Tanoh Gayo?

Jawabannya, sangat mungkin. Karena sudah ada Bandara Rembele di Bener Meriah yang berjarak hanya sekira 20 kilometer dari Takengon, Aceh Tengah, yang menjadi jantung bagi Tanoh Gayo.

Selama ini Bandara Rembele telah melayani penerbangan dari Kualanamu Sumatera Utara, meski baru tiga kali dalam seminggu, yakni Rabu, Jumat, dan Minggu.

Penerbangan jalur ini dilayani oleh maskapai Wings Air menggunakan pesawat ATR 72.

Dengan menggunakan pesawat, Takengon yang berjarak hampir 400 kilometer dari Medan, kini dapat dijangkau hanya dalam waktu 1 jam.

Jika pelancong datang dari Jakarta, maka kira-kira hanya butuh waktu 3 jam penerbangan untuk sampai ke Takengon. Malah jika pelancong datang dari Kuala Lumpur hanya butuh waktu tidak sampai 2 jam untuk tiba di Tanah Gayo.

Bandingkan dengan orang yang berangkat dari Banda Aceh melalui jalur darat, butuh waktu sekitar 8 jam baru sampai ke Takengon.

Kini, setelah frekuensi penerbangan dari Medan mulai meningkat, maka sudah saatnya Bandara Rembele difokuskan supaya bisa menerima penerbangan internasional langsung, terutama dari Kuala Lumpur, Malaysia yang selama ini menjadi penyumbang wisatawan terbesar bagi Aceh.

Mungkinkah ini?

Jika Bandara Silangit (daerah Siborong-borong) bisa, mengapa Bandara Rambele kita tidak bisa?

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved