Breaking News:

Opini

Bahasa Aceh: Identitas yang Mulai Hilang

Buktinya banyak generasi muda tidak bisa lagi berbahasa Aceh, terutama generasi muda yang lahir di kota madya atau ibu kota kabupaten. Fenomena ini sa

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Muhammad Iqbal Dosen PBI FKIP USK, Mahasiswa S3 Program Studi Linguistik USU 

OLEH MUHAMMAD IQBAL
Dosen PBI FKIP USK, Mahasiswa S3 Program Studi Linguistik USU

BAHASA Aceh merupakan salah satu bahasa daerah yang sudah ada sejak kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa itu bahasa Aceh berkedudukan sebagai bahasa nasional yang dipergunakan oleh masyarakat dalam pergaulan sehari-hari.

Akan tetapi, sejak bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara dan berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Aceh menjadi bahasa daerah yang berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat, dan (3) lambang identitas daerah.

ISBI Buka Prodi Bahasa Aceh, Prakarsa yang Perlu Didukung

Fungsi sebagai lambang identitas daerah dapat diartikan bahwa label masyarakat Aceh akan terlihat dari pemakaian bahasa Aceh. Seseorang yang dapat berbahasa Aceh melambangkan orang Aceh. Namun, saat ini identitas daerah ini sudah mulai hilang.

Buktinya banyak generasi muda tidak bisa lagi berbahasa Aceh, terutama generasi muda yang lahir di kota madya atau ibu kota kabupaten. Fenomena ini sangat merisaukan hati karena bisa dipastikan penutur bahasa Aceh semakin hari semakin berkurang. Jika hal ini terus berlanjut, suatu saat bisa diprediksi bahwa bahasa Aceh akan punah.

Baca juga: Besok Lebaran, Ini Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia

Suatu bahasa yang sudah punah akan sulit untuk dihidupkan kembali seperti terjadi pada bahasa Latin. Belajar dari sejarah kepunahan bahasa Latin, tidak tertutup kemungkinan bahasa Aceh juga akan mengalami hal serupa, apalagi bahasa ini hanya memiliki jumlah penutur kurang dari 3,5 juta, ditambah lagi saat ini kemajuan teknologi dan perubahan zaman sangat cepat.

Oleh karena itu, kesetiaan terhadap bahasa daerah khususnya bahasa Aceh sedang diuji. Sebenarnya bukan hanya bahasa Latin satu-satunya bahasa yang sudah punah, banyak bahasa lain dalam sejarah linguistik yang sebenarnya sudah  memiliki masa kejayaan, lalu akhirnya punah, seperti bahasa buatan Solresol, Volapuk, Esperanto, Interlingua, dan Novial.

Jika bahasa Aceh sampai punah seperti bahasa-bahasa yang telah disebutkan tersebut, orang tua merupakan orang yang patut diduga bersalah dalam kasus ini. Betapa tidak, orang tua telah menyelewengkan pemerolehan bahasa ibu atau bahasa pertama si anak. Jika dilihat dari salah satu teori pemerolehan bahasa, dikatakan bahwa seorang anak dilahirkan dengan tabula rasa. Artinya, lingkunganlah yang mengisi tabula rasa tersebut dan salah satu yang mengisinya adalah bahasa.

Harusnya anak-anak yang lahir dari keluarga yang kedua orang tuanya berbahasa Aceh, bahasa ibu atau bahasa pertamanya adalah bahasa Aceh. Hal ini tidak terlepas dari bunyi-bunyi bahasa yang didengar dari percakapan orang tuanya di rumah atau lingkungan sekitar sehingga bahasa ibu atau bahasa pertama diperoleh secara natural. Akan tetapi, hal tidak terjadi terutama pada keluarga yang berdomisili di kota madya atau ibu kota kabupaten.

Rata-rata orang tua agak “memaksa” anaknya berbahasa ibu bahasa Indonesia walaupun mereka di rumah berkomunikasi dengan bahasa Aceh. Sepertinya ada rasa kekhawatiran bagi mereka jika anaknya berbahasa ibu bahasa Aceh. Mereka takut anaknya akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak lain baik di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan sekolah nanti.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved