Breaking News:

Video

Pentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan di Era Digital - Jumat Mubarak

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar," (Qs. Al-Ahzab: 70)

Editor: Syamsul Azman

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar," (Qs. Al-Ahzab: 70)

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.

Masih dalam momentum rabiul awal, dimana kita mengenang kelahiran Rasulullah saw, ada begitu banyak suri teladan yang ada pada beliau, sebagai umat yang beriman ke Allah dan hari akhir sudah sepatutnya kita mengencangkan ikat pinggang dalam hal meneladani tingkah laku Rasulullah.

Dalam petikan surah Ar-Arahman ayat ke empat yang artinya "mengajarkannya pandai berbicara". Al-bayan diterjemahkan sebagai kemampuan untuk mengeluarkan isi hati dan pikiran, serta memberikan pemahaman bagi orang lain tentang apa yang ia pahami berupa penerimaan wahyu, pengetahuan atas kebenaran dan ilmu syariat.

Allah Ta'ala menciptakan manusia dalam berbagai suku dan ras serta mengajarinya kemampuan berbicara dan mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, dengan demikian terciptalah komunikasi dan interaksi dengan sesama anggota masyarakatnya sehingga lahirlah kerjasama, keharmonisan dan keakraban.

Dengan demikian terpenuhilah unsur-unsur pengajaran, yaitu quran sebagai kitabnya, rasulullah sebagai pengajar dan manusia sebagai murid, dan cara atau metodenya yaitu dengan al-bayan (bahasa, dan kemampuan berbicara).

Menelisik lebih jauh tentang masalah ini, ada ketentuan yang patut untuk diperhatikan dalam hal berbicara. Lidah yang tidak bertulang kadangkala lebih tajam dibandingkan pedang. Pada kesempatan yang mulia ini, mari sejenak kembali kita merenungkan sebuah pesan agung dari Baginda Nabi Muhammad saw, dimana dalam sebuah hadist beliau bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada tiga pesan utama yang terkandung dalam hadist di atas, yakni: anjuran berkata yang baik, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu.

Yang dimaksud dengan perkataan yang baik adalah perkataan yang didalamnya mengandung pahala, seperti saling menasehatkan dalam kebaikan atau dalam hal mencegah kemungkaran. Hakikat diam "shamt" adalah tidak berbicara, padahal ia bisa bicara. Sedangkan apabila bisa bicara, namun tersendat-sendat disebut dengan 'iyy (lemah kemampuan berbicara), dan jika rusak alat bicaranya disebut dengan "khars" (bisu). Jadi yang dimaksud dalam hadist adalah menahan diri dari pembicaraan yang tidak seharusnya dibicarakan, seperti bergosip dan membuka aib orang.

Anjuran selanjutnya adalah memuliakan tetangga. Dalam hal memuliakan tetangga, paling minimal adalah dengan saling memberi salam dan bertegur sapa, dan ini juga tidak terlepas dari anjuran berkata yang baik. Tetangga adalah orang-orang yang berada di dekat rumah kita, yakni 40 rumah dari segala penjuru rumah kita. Dalam skala lebih luas, tetangga selanjutnya adalah antar gampong, antar mukim, kecamatan, provinsi, bahkan antar negara, semua itu adalah tetangga yang harus dipenuhi hak-haknya.

Secara umum, tetangga terbagi tiga, yaitu tetangga yang mempunyai satu hak, tetangga yang mempunyai dua hak, dan tetangga yang mempunyai tiga hak. Adapun yang mempunyai satu hak adalah tetangga yang dhimmi, dengannya hanya ada hak bertetangga. Tetangga yang mempunyai dua adalah tetangga yang muslim, dia mempunyai hak bertetangga dan hak islam. Dan tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetangga yang ada hubungan kebarabat atau nasab, dia mempunyai hak tetangga, hak islam, dan hak kerabat berupa masalah warisan dan wasiat.

Sementara pesan selanjutnya adalah menghormati dan memuliakan tamu. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s disebut-sebut sebagai bapak tamu, hal ini lantaran ketika beliau hendak makan selalu saja mencari orang lain untuk makan bersamanya, bahkan beliau rela berjalan jauh bermil-mil hanya untuk menjamu makan dirumahnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved