Breaking News:

Berita Jakarta

Lukas Minta Izin Jokowi Berobat ke Luar Negeri, Alami Stroke Berat dan Sulit Bicara

Stefanus Roy Rening, meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberikan kliennya izin berobat ke luar negeri

Editor: bakri
Tribun-Papua.com/Hendrik Rewapatara
Ribuan pendukung Gubernur Papua menggelar unjuk rasa di Taman Imbi, Kota Jayapura, Selasa (20/9/2022). Aspirasi diterima Wakil Ketua I DPR Papua, Yunus Wonda. Massa meminta KPK segera menhentikan kasus Gubernur Papua 

JAKARTA - Kuasa Hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening, meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberikan kliennya izin berobat ke luar negeri.

Permintaan itu disampaikan seiring dengan penetapan Lukas sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saya atas nama Tim Hukum Pak Gubernur meminta agar Presiden Jokowi memberikan izin beliau berobat ke luar negeri dalam rangka menyelamatkan nyawa dan jiwa Pak Gubernur," kata Stefanus di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (23/9/2022).

Stefanus menyebut kondisi kesehatan Lukas mengalami penurunan sehingga perlu dilakukan perawatan intensif di Singapura.

Ia juga menilai, apabila permintaan itu tak dikabulkan dikhawatirkan akan timbul gejolak masyarakat di Tanah Papua.

Sebagaimana diketahui, dalam beberapa hari terakhir massa pendukung Lukas Enembe menggelar aksi demonstrasi di Jayapura, Papua.

Dalam aksi itu, mereka mengecam penetapan Lukas sebagai tersangka oleh KPK.

Baca juga: KPK Periksa Lukas Enembe 26 September, MAKI Desak Jemput Paksa Gubernur Papua Jika Mangkir

Baca juga: Lukas Enembe Main Kasino untuk Hilangkan Penat, Gubernur Papua Diminta Patuhi Aturan Hukum

"Kami tim hukum memandang bahwa kalau langkah-langkah ini tidak diambil oleh negara, maka bisa membuat suasana di Tanah Papua tidak harmonis," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dokter Pribadi Gubernur Papua Lukas Enembe, Anton Mote menyebut pihaknya telah menyampaikan kondisi terkini Lukas Enembe ke penyidik KPK.

Ia menyebut, Lukas harus segera menjalani kontrol kesehatan di Singapura.

Anton mengatakan pihaknya sudah menyerahkan bukti rekam medik dan surat-surat pengobatan dari Singapura ke tim penyidik KPK.

Ia juga menginformasikan, Lukas sudah menderita penyakit cukup serius sejak 2015 lalu.

"Ya salah satunya adalah stroke, tidak bisa bicara," kata Anton.

Ia juga mengatakan kondisi Lukas sempat memburuk usai penetapan dirinya sebagai tersangka.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved