Breaking News:

Internasional

Warga Iran di Amerika Serikat Bangga Dengan Demonstrasi Terbesar di Teheran

Warga Iran yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) merasa bangga dengan aksi demonstrasi terbesar di Iran untuk memprotes kematian wanita muda

Editor: M Nur Pakar
AFP
Protes terhadap kematian Mahsa Amini terus meluas di seluruh Iran dan seluruh dunia. 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Warga Iran yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) merasa bangga dengan aksi demonstrasi terbesar di Iran untuk memprotes kematian wanita muda Mahsa Amini.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang pria Iran yang melarikan diri ke AS selama masa Revolusi Islam, kepada Arab News, Senin (26/9/2022).

“Internet di Teheran telah terputus dan saya belum dapat menjangkau anggota keluarga," ujarnya.

"Tetapi sesekali mereka dapat menyampaikan pesan,” kata Mehdi, yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya.

“Kami berharap pemerintah akan menawarkan konsesi kali ini," ujarnya.

"Ini telah menjadi demonstrasi terbesar sejak revolusi dan kami bangga dengan apa yang terjadi di Iran," tambahnya.

Baca juga: Aktor Iran Sam Asghari Kecam Teheran, Pasukan Keamanan Tindak Keras Aksi Protes

“Semua orang di Iran tahu, pihak berwenang akan menindak keras para pengunjuk rasa dan membunuh mereka,” kata Mehdi.

“Ini hampir merupakan latihan target bagi mereka," jelasnya.

"Ketika saya melihat bagaimana para wanita di sana berdiri melawan rezim yang kejam yang tidak pernah menghindar dari genosida untuk mempertahankan kekuasaan mereka, membuat saya merinding," katanya.

Dia mengatakan dibutuhkan keberanian tertentu untuk melakukan apa yang mereka lakukan.

Menatap masa depan dengan harapan, dia menyatakan nyala api telah dinyalakan dan warga Iran bukan tipe orang yang suka mundur.

Menulis di The Washington Post, Karim Sajdadpour, seorang rekan senior di Carnegie Endowment for International Peace, menggambarkan protes terhadap kematian Amini dipimpin oleh cucu-cucu bangsa Iran.

Baca juga: Rezim Iran Mulai Khawatirkan Demonstrasi Besar-Besaran Atas Kematian Mahsa Amini, 31 Orang Tewas

Dimana, mereka melawan para kakek yang telah memerintah negara selama lebih dari empat dekade.

Sejak Revolusi Islam pada tahun 1979, hukum Syariah di negara tersebut mengharuskan wanita untuk mengenakan jilbab dan pakaian longgar di depan umum.

Mereka yang tidak mematuhi kode tersebut didenda atau dipenjara.

Kampanye otoritas Iran untuk membuat wanita berpakaian sopan dan menentang pemakaian pakaian wajib secara tidak benar dimulai segera setelah revolusi.

Sekaligus mengakhiri era kebebasan berbusana yang tak terkekang bagi wanita di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Pada masa pemerintahan shah, istrinya Farah yang sering mengenakan pakaian Barat diangkat sebagai model wanita modern.(*)

Baca juga: Iran Serang Pangkalan Militan Kurdi di Irak dan Tangkap Kelompok Separatis, Pemicu Demonstrasi

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved