Breaking News:

Internasional

Anggota Senior Taliban Minta Penguasa Buka Kembali Sekolah Menengah Untuk Anak Perempuan

Seorang anggota senior pemerintah yang dijalankan Taliban di Afghanistan meminta penguasa membuka kembali sekolah untuk anak perempuan.

Editor: M Nur Pakar
AFP/Wakil KOHSAR
Para pelajar sekolah dasar menyusuri jalan menuju sekolah di Kabul, Afghanistan pada Selasa (9/8/2022), namun pelajar sekolah menengah atas dilarang sekolah. 

SERAMBINEWS.COM, KABUL- Seorang anggota senior pemerintah yang dijalankan Taliban di Afghanistan meminta penguasa membuka kembali sekolah menengah untuk anak perempuan.

Dia menegaskan tidak ada alasan yang sah dalam Islam untuk larangan tersebut.

Seruan dari Sher Mohammad Abbas Stanikzai, Wakil Menteri Luar Negeri Taliban, datang selama pertemuan puncak Taliban di Kabul.

Itu menjadi suara moderat yang langka di tengah tindakan keras yang diberlakukan oleh Taliban sejak menyerbu negara itu dan merebut kekuasaan mulai 15 Agustus 2021.

Langkah-langkah itu termasuk melarang anak perempuan dari sekolah menengah dan sekolah menengah atas meskipun janji awal sebaliknya.

Wanita diwajibkan untuk menutupi diri dari ujung rambut sampai ujung kaki di depan umum, dengan hanya memperlihatkan mata.

Baca juga: Satu Tahun Taliban Berkuasa, Hamid Karzai Desak Taliban Izinkan Anak Perempuan Kembali Sekolah

Dilansir AFP, Selasa (27/9/2022), Taliban mengatakan sedang mengerjakan rencana untuk membuka sekolah menengah untuk anak perempuan tetapi belum memberikan kerangka waktu.

PBB telah menyebut larangan itu memalukan dan masyarakat internasional telah berhati-hati untuk secara resmi mengakui Taliban.

PBB mengkhatirkan Taliban kembali ke aturan keras yang sama yang diberlakukan ketika terakhir berkuasa pada akhir 1990-an.

“Sangat penting, pendidikan harus diberikan kepada semua, tanpa diskriminasi,” kata Stanikzai.

“Perempuan harus mendapatkan pendidikan, tidak ada larangan Islam untuk pendidikan anak perempuan," ujarnya.

“Jangan sampai memberi kesempatan kepada orang lain untuk membuat jurang pemisah antara pemerintah dan masyarakat,” imbuhnya.

Baca juga: Siswi Afghanistan Sudah Setahun Tidak Sekolah, Belum Ada Tanda-Tanda Taliban Buka Kembali SMA Putri

“Jika ada masalah teknis, itu perlu diselesaikan, dan sekolah untuk anak perempuan harus dibuka," tuturnya.

Namun, tidak jelas apakah dan seberapa besar Stanikzai dapat mempengaruhi kelompok garis keras, yang tampaknya memegang kendali dalam pemerintahan Taliban.

Stanikzai pernah menjadi kepala tim Taliban dalam pembicaraan yang mengarah pada kesepakatan 2020 di Qatar antara Taliban dan Amerika Serikat.

Pernyataannya menyusul penunjukan Taliban sebagai menteri pendidikan baru, beberapa hari setelah PBB meminta mereka membuka kembali sekolah untuk anak perempuan.

PBB memperkirakan lebih dari 1 juta anak perempuan telah dilarang menghadiri sebagian besar sekolah menengah dan sekolah menengah atas selama setahun terakhir.

Setahun setelah Taliban mengambil alih negara itu ketika pemerintah dan militer yang didukung Barat runtuh, PBB mengatakan semakin khawatir bahwa pembatasan pendidikan anak perempuan.

Baca juga: Pemimpin Taliban Tegaskan Tanah Afghanistan Bukan Tempat Serangan ke Negara Lain

Termasuk langkah-langkah lain yang membatasi kebebasan dasar, akan memperdalam krisis ekonomi Afghanistan dan menyebabkan ketidakamanan yang lebih besar, kemiskinan, dan isolasi.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved