Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

BPBD Latih Unsur Pemerintah dan Masyarakat di Aceh Tamiang Mitigasi Kebencanaan

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, mengungkapkan pelatihan ini melibatkan puluhan peserta yang berasal dari unsur pemerintahan, seperti

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
FOR SERAMBINEWS.COM
Beberapa mahasiswa semester I Prodi Ilmu Komputer Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh menciptakan tiga rangkaian alat elektronika berbasis pemrograman. Alat yang dinamakan "water level censor" ini mampu mendeteksi ketinggian air dan dapat digunakan untuk mitigasi bencana, terutama ancaman banjir. 

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, mengungkapkan pelatihan ini melibatkan puluhan peserta yang berasal dari unsur pemerintahan, seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan hingga TNI/Polri.

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD memberikan pelatihan mitigasi kebencanaan selama dua hari, 29-30 September 2022.

Pelatihan ini bertujuan menciptakan desa tangguh dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, mengungkapkan pelatihan ini melibatkan puluhan peserta yang berasal dari unsur pemerintahan, seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan hingga TNI/Polri.

Sementara unsur masyarakat berasal dari anggota kelompok sadar wisata dari 10 desa di Aceh Tamiang.

Dalam pelatihan ini, para peserta diberi pemahaman karakteristik bencana daerah hingga kajian resiko bencana.

Diharapkan setelah pelatihan, diharapkan resiko bencana bisa dikurangi.

Baca juga: USM Diskusikan Projek Kesehatan dan Mitigasi Bencana dengan Pakar Jepang

“Artinya tingkat kesadaran masyarakat kita dan kemampuannya menghadapi ancaman bencana bisa lebih baik lagi, ini sangat penting,” kata Bayu, sapaan Iman, Rabu (28/9/2022).

Terpisah, Kadis Pariwisata, Pemuda dan OIah Raga (Disparpora) Aceh Tamiang, Muslizar menyebut daerah ini memiliki potensi sumber daya alam hayati yang melimpah ruah mulai dari hulu hingga hilir.

Dari data yang telah mereka himpun, setidaknya ada 78 destinasi wisata yang berpotensi dikemas menjadi pariwisata unggulan.

Namun sebagian besar destinasi ini berada di hutan lindung yang sudah berstatus area penggunaan lain (APL).

Artinya kata dia, kawasan ini masih alami, sehingga potensi terjadinya bencana masih terbuka.

“Inilah mengapa perlu diciptakan desa tangguh wisata, sehingga potensi terjadinya bencana bisa diminimalisir,” kata Muslizar. (*)

Baca juga: Mahasiswa UBBG Ciptakan Alat Pendeteksi Ketinggian Air untuk Mitigasi Bencana

 
 
 
 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved