Breaking News:

Sri Mulyani Sebut Dunia Bakal Resesi pada 2023, Ini Pilihan Investasi yang Tahan Krisis Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan dunia akan masuk dalam resesi tahun depan.

Editor: Faisal Zamzami
Dok. Sekretariat Presiden
Menkeu Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan pers usai mengikuti sidang kabinet yang membagas Rancangan APBN di Kantor Presiden, Senin (8/8/2022). Sri Mulyani jelaskan kondisi anggaran subsidi BBM. 

SERAMBINEWS.COM - Ekonomi dunia diprediksi akan mengahadapi ancaman resesi global.

 Menteri Keuangan  Sri Mulyani mengingatkan dunia akan masuk dalam resesi tahun depan. 

Hal itu sudah terlihat dari kebijakan pengetatan moneter berupa kenaikan suku bunga acuan di bank sentral sejumlah negara.

Bendahara Negara itu mengatakan, proyeksi resesi ekonomi di tahun depan mengacu pada studi Bank Dunia (World Bank) yang menilai kebijakan pengetatan moneter oleh bank-bank sentral akan berimplikasi pada krisis pasar keuangan dan pelemahan ekonomi.

"Kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia pasti mengalami resesi di tahun 2023," ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (27/9/2022).

Menkeu menyebutkan, tren kenaikan suku bunga tercermin dari bank sentral Inggris yang sudah menaikkan suku bunga sebanyak 200 basis poin (bps) selama 2022.

 Begitu pula dengan bank sentral Eropa yang sudah menaikkan 125 bps, serta bank sentral Amerika Serikat (AS) yang sudah menaikkan 300 bps.

"(Suku bunga) AS sudah di 3,25 persen, sudah naik 300 bps, ini terutama karena rapat September mereka menaikkan lagi dengan 75 bps. Ini merespons inflasi AS yang 8,3 persen," kata Sri Mulyani.

Sejalan dengan negara-negara maju, bank sentral negara-negara berkembang turut menaikkan suku bunga acuannya. 

Seperti bank sentral Brasil yang sudah menaikkan suku bunga sebesar 450 bps sepanjang 2022, lalu bank sentral Mexico sudah menaikkan 300 bps.

Kemudian bank sentral India terpantau sudah menaikkan 140 bps sepanjang 2022.

 Begitu pula dengan bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia (BI) yang sudah menaikkan suku bunga acuan 75 bps dan kini berada di level 4,25 persen.

"Inilah yang sekarang sedang terjadi, yaitu kenaikan suku bunga oleh bank sentral secara cukup cepat dan ekstrem, dan itu pasti akan memukul pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, pelemahan ekonomi mulai terlihat dari ekspansi purchasing managers index (PMI) manufaktur global yang terus melambat ke 50,3 di Agustus 2022. Hal ini sekaligus menjadi level terendah dalam 26 bulan terakhir.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved