Breaking News:

Internasional

Iran Tuntut Pencairan Dana Rp 107 Triliun dari Korea Selatan, Imbalan Pembebasan Dua Warga AS

Iran menuntut pencairan dana $7 miliar, sekitar Rp 107 triliun yang dibekukan di luar negeri.

Editor: M Nur Pakar
IranWire
Baquer Namazi dan putranya, Siamak dibebaskan dari penjara Iran. 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Iran menuntut pencairan dana $7 miliar, sekitar Rp 107 triliun yang dibekukan di luar negeri.

Penuntutan itu sebagai imbalan pembebasan seorang warga Amerika Serikat (AS) keturunan Iran dan telah meninggalkan negara itu bersama putranya dari tahanan.

Baquer Namazi (85) diizinkan meninggalkan Iran untuk perawatan medis di luar negeri, dan putranya Siamak (50) dibebaskan dari tahanan di Teheran, kata PBB.

"Dengan finalisasi negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat untuk membebaskan kedua tahanan, maka $7 miliar sumber daya Iran yang diblokir akan dicairkan ," lapor kantor berita IRNA, Minggu (2/10/2022).

Miliaran dolar dana Iran telah dibekukan di sejumlah negara, terutama China, Korea Selatan dan Jepang.

Hal itu diberlakukan sejak AS menerapkan kembali sanksi keras pada Republik Islam Iran pada 2018 setelah secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia.

Baca juga: Arab Saudi Kecam Keras Iran, Ancam Keamanan dan Stabilitas Irak

Teheran menuduh Seoul menahan $7 miliar dananya sebagai "sandera", dan berulang kali meminta pihak berwenang Korea Selatan untuk mencairkannya.

IRNA pada Minggu (2/10/2022) melaporkan Washington sedang mengejar pada saat yang sama pembebasan warganya yang ditahan di Teheran dan pencairan dana Iran di Korea Selatan.

Perkembangan itu terjadi ketika pembicaraan terputus-putus telah berlangsung sejak April 2021 untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015.

Dimana, akan memberi Iran keringanan sanksi yang sangat dibutuhkan sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.

Iran telah berulang kali menyerukan pencabutan sanksi, serta jaminan Amerika Serikat tidak akan lagi menarik diri dari kesepakatan yang dihidupkan kembali.

Baca juga: Putri Mantan Presiden Iran, Faezeh Hashemi Ditangkap, Mendukung Demonstrasi

Baquer Namazi, mantan pejabat UNICEF yang ditahan pada Februari 2016 ketika pergi ke Iran untuk mendesak pembebasan putranya Siamak, yang telah ditangkap pada Oktober tahun sebelumnya.

Keduanya dihukum karena spionase pada Oktober 2016 dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

Sang ayah dibebaskan dengan cuti medis pada tahun 2018 dan telah menjalani hukumannya di bawah tahanan rumah.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved