Breaking News:

Internasional

Korban Wabah Kolera Terus Meluas di Suriah, 38 Orang Meninggal Dunia dari 594 Kasus

Kementerian kesehatan Suriah mencatat 39 kematian akibat wabah kolera dari 600 kasus yang menyebar di negara yang masih dilanda perang itu.

Editor: M Nur Pakar
AFP/File
Seorang pasien kolera yang terbaring di ranjang rumah sakit diperiksa oleh tim dokter Suriah. 

SERAMBINEWS.COM, DAMASKUS - Kementerian kesehatan Suriah mencatat 39 kematian akibat wabah kolera dari 600 kasus yang menyebar di negara yang masih dilanda perang itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan, kolera akan berkembang secara mengkhawatirkan di Suriah.

Sebanyak 594 kasus telah dicatat di 11 dari 14 provinsi sejak akhir bulan lalu, kata Kementerian Kesehatan Suriah pada Selasa (4/10/2022) malam.

“Situasinya berkembang secara mengkhawatirkan di provinsi yang terkena dampak dan meluas ke daerah baru,” sebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dilansir AFP, Rabu (5/10/2022), sebagian besar dari mereka yang meninggal berada di provinsi utara Aleppo.

Tetapi, tidak segera jelas apakah korban tewas termasuk dalam penghitungan kasus secara keseluruhan.

Baca juga: Wabah Kolera Renggut 29 Warga Suriah, Sebagian Besar di Provinsi Aleppo

Ini menjadi wabah kolera besar pertama di Suriah dalam lebih dari satu dekade.

Penyakit yang sangat mematikan ini umumnya ditularkan dari makanan atau air yang terkontaminasi, dan menyebabkan diare dan muntah.

Kolea dapat menyebar di daerah pemukiman yang tidak memiliki jaringan pembuangan air limbah atau air minum utama.

Penyakit ini muncul kembali secara besar-besaran sejak 2009 di Suriah.

Dimana hampir dua pertiga dari instalasi pengolahan air, setengah dari stasiun pompa dan sepertiga menara air telah rusak oleh perang, menurut PBB.

Sumber wabah terbaru diyakini Sungai Efrat yang telah terkontaminasi oleh polusi limbah.

Baca juga: Sungai Efrat di Suriah Tercemar, Ratusan Warga ProvInsi Deir Ezzor Terserang Penyakit Kolera

Berkurangnya aliran air karena kekeringan, kenaikan suhu dan bendungan yang dibangun oleh Turki telah memperparah masalah polusi.

Meskipun kontaminasi, lebih dari lima juta dari sekitar 18 juta orang Suriah bergantung pada Efrat untuk air minum mereka.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved