Selasa, 28 April 2026

Berita Banda Aceh

Setidaknya Ada Dua Jaringan Teroris di Aceh, Semua Pihak Diminta Waspada

Imbauan itu disampaikan Al Chaidar SIP MSi, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh Aceh Utara dan pengamat teroris dalam talkshow interaktif

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
SERAMBI FM/ARDI
Pengamat Terorisme dan Dosen FISIP Unimal, Al Chaidar SIP, MSi dan Direktur Yayasan Jalin Perdamaian, Yudi Zulfahri SSTP, MSi (tampil via zoom) menjadi narasumber talkshow interaktif dengan tema "Perkembangan Jaringan Teroris di Aceh", di Studio Serambi FM, Minggu (9/10/2022). Talkshow dipandu host: Yarmen Dinamika, Wartawan Senior Harian Serambi Indonesia. Talkshow ini juga dihadiri AKBP H Syuhaimi (Mabes Polri) 

Imbauan itu disampaikan Al Chaidar SIP MSi, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh Aceh Utara dan pengamat teroris dalam talkshow interaktif yang berlangsung di Studio Radio Serambi FM, kawasan Meunasah Manyang, Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. 

Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Saat ini setidaknya ada dua jaringan teroris yang terdeteksi diam-diam masih “eksis” di Aceh.

Mereka adalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Islamiyah (JI).

Pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat Aceh diimbau agar tidak lengah terhadap eksistensi dan perkembangan jaringan teroris di provinsi ini.

Jika semua pihak abai, kedua jaringan ini bisa saja berkembang dan semakin banyak pendukungnya, termasuk dari kalangan muda.

Imbauan itu disampaikan Al Chaidar SIP MSi, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh Aceh Utara dan pengamat teroris dalam talkshow interaktif yang berlangsung di Studio Radio Serambi FM, kawasan Meunasah Manyang, Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. 

Talkshow yang berlangsung Minggu (9/10/2022) pagi itu juga menghadirkan narasumber lainnya, yakni Yudi Zulfahri SSTP MSi selaku Direktur Yayasan Jalin Perdamaian.

Baca juga: Nasib Keluarga Terduga Teroris di Tamiang, Jadi Sasaran Bully hingga Terancam Jadi Pengangguran

Yudi yang sedang berada di Jakarta ikut talkshow ini melalui aplikasi zoom.

Talkshow ini terselenggara atas dukungan Mabes Polri.

Berdasarkan pendeteksian Al Chaidar, sel-sel jaringan JAD di Aceh tersebar di enam kabupaten/kota, yakni Aceh Tamiang, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Utara, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh.

Sedangkan sel jaringan JI hanya terdeteksi di Aceh Tamiang, Kota Langsa, Bireuen, dan Aceh Utara.

“JAD itu afialiasinya dengan ISIS di Suriah, sedangkan JI afiliasinya dengan Al-Qaeda,” kata Al Chaidar.

Dibekuknya ISA (37), Qoid Koordinator Daerah (Korda) Jaringan JI oleh Tim Densus 88 Antiteror Polri di Aceh Tamiang pada 3 Agustus 2022 lalu disebut Al Chaidar sebagai salah satu indikator bahwa sel-sel jaringan JI di Aceh memang ada.

Baca juga: Dua Eks Narapidana Teroris Dibantu Penanaman 10 Ribu Batang Pepaya California

Mengutip penjelasan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Winardy kepada Serambi, Kamis (4/8/2022), ISA memiliki peran penting dalam struktur JI.

Dengan ditangkapnya ISA yang merupakan Qoid Korda Wilayah Aceh, total terduga teroris yang sudah diamankan dari berbagai wilayah di Aceh belakangan ini adalah 15 orang, baik itu kelompok JI maupun JAD.

Dari Aceh Tamiang ada 10 anggota JI yang sudah diamankan, yaitu DN, SY, JU, RS, FE, ES, RU, MU alias AL, A alias S alias E, terakhir ISA.

Kemudian, ada dua yang ditangkap di Banda Aceh yakni AK (JI) dan MR (JAD). Di Bireuen ditangkap pula MH (JI), di Aceh Utara MS (JAD), dan di Langsa dicokok MA (JI).

Fakta tersebut menjadi dasar bagi Al Chaidar untuk mengingatkan semua pihak untuk tidak boleh lengah, apalagi abai, seolah di Aceh tidak ada orang yang terpengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Baca juga: Wow! Uya Kuya Pernah Hipnotis Polisi Terkait Kasus Teroris, Kini Diminta Eks Kabareskrim Hipnotis PC

“Dibanding di daerah lain, di Acehlah jaringan dan gerakan teroris ini yang paling kompleks. Kalau di tempat lain terkadang hanya ada satu jaringan saja.

Tetapi di Aceh jumlahnya bisa lebih dari dua, setidaknya ada jaringan teroris narkoba dan jaringan teroris Pilkada.  

Mereka aktif melakukan rekrutmen kader, salah satunya melalui media sosial,” ujar Al Chaidar.

“Terorisme ini merupakan gerakan transnasional. Mereka banyak memengaruhi orang-orang yang merantau, termasuk perantau dari Aceh. Pemicu lahirnya radikalisme dan terorisme ini adalah ketidakadilan, di samping milenarianisme.

Kalau kita tidak antisipasi, jumlah pengikutnya makin bertambah dan jaringannya makin meluas,” kata penulis buku Aceh Bersimbah Darah ini. 

Kurang dilibatkan

Sementara itu, Yudi Zulfahri, mengatakan, dari 53 orang teroris yang terlibat latihan militer di Jalin, Jantho, Aceh Besar, tahun 2010 mayoritas sudah berhasil dirangkul pemerintah.

Mereka sudah sadar. Namun, ada juga beberapa orang yang terus berjuang dengan apa yang ia percayai, termasuk yang beraksi dalam bom Sarinah, Jakarta.

Yudi mengaku kecewa karena Yayasan Jalin Perdamaian yang mereka bentuk pascainsiden Jalin dan yayasan tersebut sudah berbadan hukum, tapi sangat jarang dilibatkan pemerintah daerah dalam upaya mengurangi potensi radikalisme dan terorisme di Aceh.

“Di tempat lain pun keadaannya kurang lebih sama. Padahal, di yayasan ini berhimpun mantan-mantan teroris yang cukup paham kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Pengamat teroris lainnya, Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad yang ikut bicara melalui jalur telepon saat talkshow berlangsung mengingatkan bahwa belum terlihat tanda-tanda bahwa potensi radikalisme dan terorisme di Aceh berkurang pascainsiden Jalin.

“Saat ini potensinya malah ‘sedang menuju tinggi’,” kata Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry ini.

Untuk itu, dia ingatkan orang tua agar aktif memantau aktivitas anak-anaknya di dunia maya, karena penyebaran virus radikalisme dan terorisme belakangan ini gencar dilakukan melalui jalur virtual.

Selain itu, anak-anak SD hingga SMA harus diwaspadai karena belakangan ini ada anak SD di wilayah barat dan selatan Aceh yang sudah berani menyalahkan dan menyanggah orang tuanya.

“Anak-anak seperti ini sangat mungkin terpapar oleh energi kebencian dari gurunya. Gurunya bersikap seperti itu mungkin saja karena korban dari ketidakadilan atasannya atau karena faktor eksternal lainnya,” demikian Dr Kamaruzzaman. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved