Selasa, 9 Juni 2026

Berita Aceh Tamiang

Mangkrak Empat Tahun, Stadion Tamiang Jadi Tempat Gembala Ternak

Hewan ternak ini berbaur dengan masyarakat yang melakukan jogging dan anak-anak sekolah sepak bola yang berlatih setiap sore di stadion

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/RAHMAT WIGUNA
Stadion Aceh Tamiang yang terbengkalai sejak tahun 2018 lalu terlihat kumuh dan berlumut, Selasa (18/10/2022). 

Bahkan, bukan hal aneh bila melihat kawanan kambing memenuhi tribun stadion.

Hewan ternak ini berbaur dengan masyarakat yang melakukan jogging dan anak-anak sekolah sepak bola yang berlatih setiap sore di stadion.

PEMBANGUNAN stadion di Kabupaten Aceh Tamiang terhenti sejak tahun 2018 lalu.

Bangunan terbengkalai ini menyebabkan kondisinya tidak terawat, sehingga kerap dimasuki ternak sapi dan kambing.

Kumuhnya bangunan stadion itu tidak bisa disembunyikan karena berada persis di pinggir jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Kecamatan Karang Baru.

Kondisi tribun bukan hanya telihat kusam, tapi juga sudah dipenuhi lumut.

Untuk diketahui, pembangunan stadion ini dimulai tahun 2009 secara bertahap.

Pada tahun 2018, pembangunan fisik stadion dilakukan menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus) Rp 3 miliar.

Setelah itu, progres pembangunan terhenti sehingga fungsi stadion belum berjalan sepenuhnya.

“Masih banyak yang perlu dibenahi karena progresnya baru 40 persen,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Kadisparpora) Aceh Tamiang, Muslizar, Selasa (18/10/2022).

Saat ini, stadion tersebut hanya memiliki satu tribun dan belum dilengkapi pagar keliling.

Ini membuat ternak sapi dan kambing yang dilepas warga bebas keluar masuk.

Baca juga: Rp 7,8 Miliar untuk Stadion Tamiang  

Baca juga: Aset Terbengkalai, Tim Provinsi Siap Rampungkan Pembangunan Stadion Tamiang

Bahkan, bukan hal aneh bila melihat kawanan kambing memenuhi tribun stadion.

Hewan ternak ini berbaur dengan masyarakat yang melakukan jogging dan anak-anak sekolah sepak bola yang berlatih setiap sore di stadion.

Mirisnya, kondisi stadion yang belum layak pakai ini sudah sering digunakan untuk turnamen besar yang melibatkan tim dari berbagai daerah.

“Untuk saat ini kita memang belum memiliki alternatif lain, makanya mau tak mau stadion ini tetap digunakan dengan fasilitasnya yang serba minim,” ungkap Muslizar seraya menambahkan kebutuhan mendesak berupa tribun penonton, ruangan untuk pemain dan ofisial, lintasan lari, serta pagar stadion.

Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Tamiang, Edi Mofrizal, mengakui stadion itu hingga sekarang belum berfungsi.

Dia memperkirakan, anggaran yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan seluruh bagian stadion sekitar Rp 36 miliar.

“Keberadaan stadion ini sangat penting untuk mendukung pembinaan atlet kita untuk bisa meraih prestasi di tingkat provinsi, regional, dan nasional,” ujar Edi.

Jalan dan tanggul juga mangkrak Selain stadion, pembangunan jalan ke perbatasan Aceh Timur dan sejumlah tanggul juga belum terlaksana.

Sebagai contoh, pembangunan jalan dari Simpang Kompi (Aceh Tamiang) menuju Aceh Timur sepanjang 43 Kilometer.

Harapan masyarakat untuk bisa menikmati akses jalan baru ini mencuat ketika Pemerintah Aceh mengucurkan dana Rp 59 miliar pada 2020.

Dengan anggaran sebesar ini, pemerintah berhasil menyelesaikan jalan sepanjang 15 Kilometer dengan lebar aspal enam meter dan masing-masing bahu jalan satu meter.

“Pengerjaan ini selesai di akhir tahun 2021, dan masih ada sisa 28 Kilometer lagi yang belum dikerjakan,” ungkap Edi Mofrizal.

Baca juga: Investasi Aceh dan Tantangan Disrupsi Global

Namun hingga menjelang akhir 2022, lanjutan pengerjaan sisa jalan 28 Kilometer ini belum menunjukan tanda-tanda dimulai.

Kondisi jalan itu 30 persen beraspal serta 70 persen rusak parah dan masih tanah.

Diperkirakan, butuh anggaran Rp 120 miliar untuk menuntaskan pembangunan jalan tersebut.

“Jalan ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang dan Aceh Timur,” imbuhnya.

Pembangunan tanggul di wilayah hilir Aceh Tamiang pun perlu dilakukan segera.

Sebab, buruknya konstruksi tanggul menyebabkan tiga kampung yakni Teluk Halban, Marlempang, dan Rantau Pakam, menjadi langganan banjir.

Banjir musiman ini sudah dirasakan warga sejak 2019 atau setelah sheet pile di wilayah ambruk diterjang banjir sebelumnya.

“Dalam setahun bisa tiga sampai empat kali banjir,” kata Datok Penghulu Kampung Rantau Pakam, Ruslan.

Menurut Ruslan, warganya berhak menagih janji Pemerintah Aceh untuk membenahi tanggul di kampungnya.

Sebab, janji perbaikan tanggul itu disampaikan Gubernur Aceh ketika meninjau banjir bersama Pangdam IM, Kapolda Aceh, dan unsur Forkopimda lainnya pada tahun 2020.

“Kami bolak-balik gotong royong perbaiki tanggul, tapi tetap banjir.

Sekarang kami cuma bisa pasrah,” ungkapnya.

Kadis PUPR Aceh Tamiang, Edi Mofrizal mengungkapkan, perbaikan bibir sungai sudah dilakukan Pemerintah Aceh dengan membangun tanggul di Teluk Halban.

Tanggul yang saat ini sedang dikerjakan diharapkan selesai sebelum Desember mendatang.

Namun, ia menilai anggaran yang dikucurkan pemerintah Rp 1,9 miliar belum cukup untuk melindungi wilayah itu dari ancaman banjir.

Berdasarkan kalkulasi yang mereka lakukan, dibutuhkan minimal Rp 15 miliar untuk menciptakan lingkungan bebas banjir di wilayah pesisir tersebut. (*)

Baca juga: Pembangunan Stadion Tamiang Dilanjutkan, Provinsi Kucurkan Rp 7,8 Miliar

Baca juga: Menteri PUPR Minta Percepat Tangani Tanggul Jebol akibat Banjir

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved