Kupi Beungoh
Santri Menanti Kabar Baik dari Pj Gubernur Aceh
Setelah peringat HSN saat itu saya menulis siaran pers di Serambinews bahwa jika pemerintah serius peduli kepada santri di Aceh, maka kita harus betul
Oleh: Dr Teuku Zulkhairi MA*)
SAAT peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dilaksanakan di Asrama Haji Banda Aceh tahun 2021 lalu, hadir sebagai undangan saya menunggu kabar gembira - apakah yang akan disampaikan Sekda Aceh yang saat itu tampil memberi sambutan mewakili Gubernur Aceh.
Saya melihat ratusan santri yang diundang menghadiri acara HSN berdiri di bawah terik matahari. Namun rupanya tidak ada kabar gembira apapun kecuali arahan agar ikut vaksin dari Pak Sekda.
Mestinya memperingati hari santri itu bukan sekedar seremonial belaka tanpa diiringi komitmen untuk tidak memargilkan para santri.
Setelah peringat HSN saat itu saya menulis siaran pers di Serambinews bahwa jika pemerintah serius peduli kepada santri di Aceh, maka kita harus betul-betul peduli pada upaya-upaya meningkatkan sumber daya mereka. Dan itu sebenarnya tidak sulit jika kita serius.
• Menanti Kepak Sayap Santri di 2024
Tapi meskipun tidak sulit, namun faktanya sampai saat ini santri-santri dayah masih menjadi pelajar “kelas dua”. Keberadaannya terus menerus dimarginalkan oleh para pemilik kekuasaan.
Selama ini kita sering mendengar orang-orang mengkritik mengapa tidak muncul banyak karya tulis dari para santri atau teungku-teungku dayah di Aceh.
Sejumlah dosen di perguruan tinggi mungkin akan membanggakan keunggulan kampus ketimbang dayah karena dosen-dosen dapat menghasilkan banyak karya tulis tapi tadak demikian santri /teungku dayah.
Apakah mungkin kita akan menanti banyak karya tulis dari para santri dayah sementara dukungan ke arah ini tidak diberikan?
Jika para dosen memiliki gaji bulanan, juga tidak jarang mendapatkan anggaran-anggaran untuk penelitian dan kemudian menghasilkan jurnal dan buku - sehingga dosen-dosen memiliki banyak karya tulis – tapi santri-santri atau teungku dayah tidak diberikan kesempatan semacam itu.
Saya jujur sangat penasaran mengapa tidak ada kepedulian maksimal untuk para santri di Aceh bahkan hingga dana otonomi khusus hampir selesai.
Kita tidak lelah mengingatkan tapi kadangkala penasaran mengapa ide-ide pengembangan santri sangat sulit didengar.
• Peringatan Hari Santri Nasional, Ini Pesan Abu Mudi Samalanga
Mestinya, pengembangan tradisi menulis di kalangan santri dan mahasantri ini harus jadi perhatian utama para pengambil kebijakan dan itu tidak cukup hanya dengan pelatihan-pelatihan jurnalistik dan menulis di media saja.
Tapi ingin para santri dan mahasantri Aceh bisa menulis di jurnal-jurnal dan menghasilkan buku-buku dan kitab. Sehingga pemikiran para santri yang asli merujuk kepada khazanah kitab kuning klasik ini dapat dibaca oleh publik secara luas.
Selama ini belum pernah terdengar ada program spektakuler, misalnya program menulis “1000 buku santri” dan sebagainya yang proses penerbitannya difasilitasi pemerintah.
Saya menyaksikan selama ini banyak sekali santri-santri dan teungku dayah yang setelah menulis buku lalu kesulitan untuk mencari penerbit karena faktor keuangan.
Padahal jumlah santri yang mau menulis itu sedikit. Yang sedikit itupun tidak difasiltasi penerbitan naskah-naskahnya. Kita harapkan pengambil kebijakan di Aceh bisa perhatian pada pengembangan intelektualitas santri semacam ini. Karena ini adalah nyata sebagai kerja dalam skala peradaban.
Kita semua pasti paham bahwa ulama-ulama dahulu di Aceh dan di manca negara itu mereka adalah para penulis. Misalnya ulama Aceh seperti Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Nuruddin Ar-Raniry, Baba Daud Rumi, Hamzah Fansuri dan sebagainya.
Begitu juga ulama dunia seperti Imam Ghazali, Imam Syafi’i, Imam Nawawi dan seterusnya. Semua mereka itu mengabdikan hidupnya dalam dunia keilmuan Islam yang ditandai dengan warisan karya tulis mereka yang dapat kita baca hari ini.
Dengan karya-karya mereka itu membuat terbangun peradaban keilmuan nusantara yang berpusat di Aceh dimana para ulama adalah tokoh sentral peradaban.
Dalam konteks ini, kita berharap adanya perhatian dari Pak Achmad Marzuki selaku Penjabat Gubernur Aceh. Jika bisa, peringatan HSN tahun 2022 adalah kabar gembira bagi para santri di Aceh.
Sebagai seseorang yang pernah nyantri di dayah, saya paham bahwa santri-santri itu butuh perhatian karena umumnya mereka adalah anak-anak masyarakat miskin, khususnya santri-santri di dayah tradisional.
Kabar gembira apa yang dapat diberikan kepada para santri? Misalnya seperti beasiswa. Harus ada program beasiswa khusus bagi santri-santri dari dayah.
Jujur, “hampir keriting” rambut saya ketika meneliti kenapa hingga saat ini tidak ada program beasiswa khusus bagi santri-santri dayah di Aceh. Baik di Dinas Dayah maupun di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh.
Saya beberapa kali menyampaikan kepada kepala BPSDM agar ada beasiswa khusus untuk para santri/mahasantri dari dayah-dayah tradisional di Aceh. Lalu diarahkan ke dinas dayah. lalu dinas dayah pun tidak ada program semacam itu.
Jadi sebenarnya ini jelas sebagai bukti bahwa para para santri masih dimarginalkan. Itu belum lagi kita berbicara tentang minimnya perhatian pemerintah kepada guru-gurunya para santri di dayah.
Coba anda bayangkan, ada dayah yang gurunya mencapai 100 orang, tapi hanya lima orang yang mendapat insentif tahunan (setahun sekali) dari pemerintah yang jika dihitung hanya ratusan ribu per bulan. Aneh tidak ?
Dan semakin aneh ketika saya mengingat kabar beberapa tahun lalu bahwa di Thailand yang notabene pemimpinnya bukan muslim, tapi menurut pengakuan ketua ulama bagian selatan Thailand, Tuan Guru Abdul Azis Yanya beberapa tahun silam kepada saya, para guru “pesantren” disana justru betul-betul dianggap sederajat dengan guru-guru lainnya dalam hal perhatian pemerintah. Itu pemimpinnya bukan muslim. Mestinya kita disini harus lebih maju lagi.
Berkaitan dengan beasiswa untuk santri, saya betul-betul bingung mengapa hingga saat ini para pihak di Aceh yang diberikan jabatan untuk mengurus pendidikan para santri masih gagal membuat terobosan-terobosan yang membanggakan untuk memajukan para santri misalnya dengan mengirim para santri keluar negeri dan sebagainya.
Selain kepada Pj Gubernur Aceh, kepada para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) kita harapkan agar betul-betul perhatian terhadap perkara ini.
Sayangilah pendidikan dayah di Aceh dengan cara tidak hanya memformulasikan pembangunan fisik pada dayah-dayah yang memiliki jaringan dengan elit politik. Mestinya pembangunan sumber daya manusia harus juga menjadi perhatian utama kita.
Dayah di Aceh ini adalah “benteng” pertahanan Islam. Kita harus bersatu mendukung dan memperkuat benteng ini. Cara memperkuat “benteng” ini adalah dengan terus “meninggikannya”. Ya dengan mendukung sepenuhnya agenda-agenda pendidikan santri dalam berbagai bentuknya.
Di Aceh sekarang juga sudah hadir sebanyak enam Ma’had Aly yang merupakan perguruan tinggi berbasis dayah. Kehadiran Ma’had Aly ini diproyeksikan agar dapat melahirkan banyak kader-kader Mutafaqquh Fiddin yang konsisten dengan studi turast dan membawanya dalam kehidupan modern.
Tapi sekali lagi, saya penasaran mengapa perhatian untuk Ma’had Aly ini hingga sejauh ini masih begitu jauh dari harapan ideal. Jadi ya begitulah.
Akhir kata, kepada adik-adik saya para santri yang belajar di dayah, para teungku-teungku, yakinlah bahwa habis gelap maka akan terbitlah terang. Jangan patah semangat dan teruslah berjuang menuntut ilmu. Kepedihan yang dirasakan di jalan menuntut ilmu adalah bukti jalan itu sudah benar. Selamat Hari Santri 22 Oktober.
*PENULIS adalah Sekjend Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel Kupi Beungoh Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/komisoner-komisi-penyiaran-indonesia-kpi-aceh-teuku-zulkhairi.jpg)