Breaking News:

Berita Kutaraja

Galian C di Gle Genteng Rupanya Ilegal Masa Berlaku IUP Sudah Habis, Pemilik Terancam Denda Rp 100 M

Penyitaan tersebut dikarenakan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik FE (45), warga Aceh Besar itu telah habis masa berlakunya.

Penulis: Indra Wijaya | Editor: Saifullah
Dok Polresta Banda Aceh
Personel Polresta Banda Aceh terdiri dari Satreskrim dan Satintelkam menyita satu unit Ekskavator merek Komatsu type Avance PC 200 di lokasi pertambangan galian C ilegal Gle Genteng, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Kamis (3/11/2022) siang. 

Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Personel Polresta Banda Aceh terdiri dari Satreskrim dan Satintelkam menyita satu unit excavator merk Komatsu type Avance PC 200 dan buku rekapan dengan jumlah 18 mobil angkutan tertanggal 3 November 2022, di lokasi pertambangan galian C ilegal Gle Genteng, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Kamis (3/11/2022) siang.

Penyitaan tersebut dikarenakan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik FE (45), warga Aceh Besar itu telah habis masa berlakunya, namun masih melakukan operasi pengerukan di lokasi tersebut.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, melalui Kasatreskrim, Kompol Fadillah Aditya Pratama mengatakan, penyitaan barang bukti di lokasi pertambangan karena telah habis masa berlakunya.

Ia menjelaskan, bahwa pihaknya menyita alat berat milik FE untuk keperluan proses hukum. 

“Untuk alat berat, masih kita sita guna keperluan proses hukum,” kata Kasatreskrim didampingi Wakasat Intelkam, AKP Alwafi Setya Mufid.

Menurut Kasatreskrim, perbuatan FE termasuk tindak pidana yang diatur dalam Pasal 158 jo 35 UURI Nomor 3 Tahun 2020 perubahan atas UURI Nomor  4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang menyatakan, bahwa kegiatan penambangan tanpa izin dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar.

Baca juga: IUP Pemilik Galian C Distop Sementara Terkait Tebing Glee Geunteng Longsor

" Izin Usaha Pertambangan (IUP) di lokasi milik FE telah lama masa berlakunya habis. Ianya tidak melakukan pengurusan perpanjangan ke Dinas Pertambangan Provinsi Aceh untuk kelanjutan usaha pengerukan batu gunung tersebut," sebut dia. 

Ia menerangkan, selain penyitaan barang bukti yang saat ini sudah di-police line di lokasi, Kanit Tipidter, Ipda Al Ansar selaku penyidik telah memintai keterangan terhadap AA (38), selaku pencatat mobil pengangkutan, dan FIR (28), selaku operator excavator, serta MUK (45) sebagai pendamping operator.

"Tiga petugas di lokasi turut dimintai keterangan guna kelengkapan administrasi penyidikan yang akan diajukan ke Jaksa nantinya," tambah Kasatreskrim.

Sementara itu, excavator yang sudah di-police line akan dipindahkan ke Polda Aceh pada Jumat (4/11/2022), untuk dititipkan di lahan barang bukti Ditreskrimsus mengingat keterbatasan lahan barang bukti Polresta Banda Aceh.(*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved