Breaking News:

Internasional

Demonstran Menolak Proyek Pelabuhan Adani di Kerala Berakhir Rusuh, 86 Orang Terluka

Demonstrasi menolak proyek pelabuhan Adani Group senilai $900 juta di negara bagia Kerala, India berakhir rusuh.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Pasukan India berjaga di sebuah pasar di Srinagar, India, Minggu (24/10/2021). 

SERAMBINEWS.COM, KOCHI - Demonstrasi menolak proyek pelabuhan Adani Group senilai $900 juta di negara bagia Kerala, India berakhir rusuh.

Sebanyak 80 orang terluka, 36 di antaranya polisi dalam bentrokan dengan demonstran yang juga menuntut pembebasan seseorang yang ditangkap selama demonstrasi.

Agitasi yang berkembang menjadi masalah besar bagi bisnis pelabuhan dan logistik Adani senilai $23 miliar.

Lokasi pelabuhan di ujung selatan India dipandang sebagai kunci untuk memenangkan bisnis dari pelabuhan di Dubai, Singapura, dan Sri Lanka.

Konstruksi di pelabuhan Vizhinjam telah dihentikan selama lebih dari tiga bulan setelah demonstran, sebagian besar berasal dari komunitas nelayan, memblokir pintu masuk.

Mereka menyalahkan pembangunan atas erosi pantai dan merampas mata pencaharian mereka.

Baca juga: India Berhasil Meluncurkan Roket Pertama Pihak Swasta, Dikembangkan Oleh Skyroot

Selama akhir pekan, pengunjuk rasa memblokir kendaraan konstruksi Adani memasuki pelabuhan, meskipun ada perintah pengadilan untuk melanjutkan pekerjaan, yang mendorong penangkapan banyak dari mereka.

Hal itu mendorong ratusan lainnya berkumpul di kantor polisi pada Minggu (27/11/2022) malam.

Mereka menuntut pembebasan salah satu dari mereka yang ditangkap, yang menyebabkan bentrokan dengan polisi dan kerusakan pada beberapa kendaraan mereka, gambar berita televisi dan dokumen polisi menunjukkan.

"Mereka datang dengan senjata mematikan dan menerobos masuk kantor dan menyandera polisi," kata polisi dalam dokumen kasus insiden tersebut.

"Mereka mengancam, jika orang-orang yang ditahan tidak dibebaskan, maka akan membakar kantor polisi," tambahnya.

Banyak demonstran adalah orang Kristen yang dipimpin pendeta Katolik Roma.

Baca juga: Pelaut India Ditahan di Guinea Makin Putus Asa, Desak Pemerintah Segera Membebaskan Mereka

Polisi menyerang para demonstran, di antaranya pendeta, kata seorang pejabat Eugine H. Pereira, vikjen keuskupan agung.

“Batu dilempari bahkan dari stasiun,” kata Pereira, yang menyerukan penyelidikan yudisial atas insiden tersebut.

Dilansir Reuters, Grup Adani tidak segera menanggapi permintaan komentar pada Senin (28/11/2022).

Sebelumnya dikatakan proyek tersebut mematuhi semua undang-undang.

Hal itu berdasarkan penelitian dalam beberapa tahun terakhir yang telah menolak tuduhan yang menghubungkannya dengan erosi garis pantai.

Pemerintah negara bagian menyalahkan erosi pada bencana alam.(*)

Baca juga: Petugas Masih Melakukan Pencarian Korban Tenggelam Jembatan Runtuh di Gujarat India

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved