Internasional

China Umumkan 60.000 Kematian Akibat Covid-19, WHO Minta Data Korban Lebih Rinci Lagi dan Transparan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (15/01/2022) minta Pemerintah China melaporkan data korban Covid-19 lebih rinci lagi.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Rumah sakit di Beijing, China mulai hadapi pasien Covid-19. 

SERAMBINEWS.COM, BEIJING - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (15/01/2022) minta Pemerintah China melaporkan data korban Covid-19 lebih rinci lagi.

Pemerintah China pada Sabtu (14/01/2023) mengumumkan hampir 60.000 kematian sejak awal Desember 2022 setelah berminggu-minggu gagal memberi tahu dunia apa yang sedang terjadi.

Pengumuman itu menjadi angka kematian resmi pertama sejak Partai Komunis yang berkuasa tiba-tiba mencabut pembatasan anti-virus Corona pada Desember 2022, meskipun ada lonjakan infeksi yang membanjiri rumah sakit.

WHO dan pemerintah lain meminta informasi, saat Amerika Serikat, Korea Selatan, dan lainnya memberlakukan kontrol pada pelancong China.

Pemerintah mengatakan 5.503 orang meninggal karena gagal pernafasan yang disebabkan oleh Covid-19.

Kemudian, sebanyak 54.435 kematian akibat kanker, penyakit jantung, dan penyakit lain yang dikombinasikan dengan Covid-19 dari 8 Desember 2022 sampai 12 Januari 2023.

Baca juga: Rumah Sakit dan Rumah Duka China Mulai Kewalahan Hadapi Membanjirnya Korban Virus Corona

"Pengumuman tersebut memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang situasi epidemiologis,” kata pernyataan WHO.

Direktur jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara melalui telepon dengan Menteri Kesehatan Ma Xiaowei.

Komisi Kesehatan Nasional mengatakan hanya kematian di rumah sakit yang dihitung, yang berarti siapa pun yang meninggal di rumah tidak akan dimasukkan.

Sehingga, tidak adan indikasi kapan atau apakah akan merilis jumlah yang diperbarui.

“WHO meminta agar informasi terperinci semacam ini terus dibagikan kepada kami dan publik,” kata badan tersebut.

Seorang pejabat kesehatan mengatakan puncak darurat nasional telah berlalu berdasarkan penurunan 83 persen jumlah harian orang yang pergi ke klinik demam dari angka tertinggi pada 23 Desember 2022.

Baca juga: Bank Dunia Keluarkan Peringatan, Resesi Ekonomi Ancam Tahun 2023, Perang Ukraina Sampai Covid-19

Laporan itu akan dua kali lipat dari jumlah kematian resmi Covid-19 China sebanyak 10.775 orang, sejak penyakit ini pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan pada akhir 2019.

China hanya menghitung kematian akibat pneumonia atau gagal napas dalam jumlah resminya, tidak termasuk banyak kematian. yang mungkin disebabkan oleh virus Corona.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved