Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Berhari Raya Bersama Masyarakat Lokal Cina

Bukan hanya masyarakat lokal muslim yang berada di masjid, tetapi juga banyak orang asing seperti mahasiswa maupun orang asing yang bekerja di Cina

Tayang:
Editor: mufti
IST
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, Mahasiswi Sichuan University, asal Aceh, melaporkan dari Kota Chengdu, Cina 

PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, Mahasiswi Sichuan University, asal Aceh, melaporkan dari Kota Chengdu, Cina

HARI Raya Idulfitri 1444 Hijriah jatuh pada tanggal 22 atau 23 April 2023 di beberapa wilayah. Di Arab Saudi misalnya, 1 Syawal dirayakan tanggal 22 April 2023, tapi di

Indonesia mengikuti keputusan pemerintah, yakni dirayakan pada 23 April. Sama seperti di Indonesia, masyarakat muslim di Cina pun merayakan Idulfitri tahun ini pada 23 April 2023.

Dan ini adalah pengalaman pertama saya berpuasa sekaligus merayakan Idulfitri di negara orang.

Selama di sini saya beberapa kali mengunjungi masjid untuk buka puasa dan shalat Tarawih. Masjid menyediakan buka puasa gratis dengan menu mi dan daging. Selain itu, beberapa restoran halal yang dekat dengan masjid juga menyediakan makanan gratis bagi orang yang berbuka puasa.

Di masjid, setelah buka puasa dan shalat Magrib, dilanjutkan dengan shalat Isya dan Tarawih hingga Witir.

Bukan hanya masyarakat lokal muslim yang berada di masjid, tetapi juga banyak orang asing seperti mahasiswa maupun orang asing yang bekerja di Cina. Di  antaranya berasal dari Maroko, Pakistan, India, Bangladesh, dan sebagainya.

Ketika saya berbuka puasa di sana, saya melihat hangatnya persahabtan muslim dari berbagai negara yang memang sangat menganggap masyarakat muslim adalah saudara.

Kemudian, saya duduk satu meja dengan beberapa orang tua asal Ningxia, salah satu kota di Cina yang banyak penduduknya menganut agama Islam. Beliau bertanya asal saya, sekolah di mana, dan menceritakan kampung halamannya di Ningxia.

Buka puasa di masjid salah satu hal yang membawa banyak manfaatnya bagi saya. Selain tujuan beribadah, juga untuk menambah pengalaman dan teman. Saya mengenal banyak mahasiswa lokal Cina muslim yang berasal dari universitas lain dan bertukar cerita satu sama lain.

Saya bisa dikatakan cukup beruntung karena memiliki beberapa teman Cina muslim dan

bisa menghabiskan waktu bersama. Misalnya selama Ramadhan mereka mengajak saya

buka puasa bersama setelah pulang kuliah. Mereka juga mengajak saya ke masjid

melaksanakan shalat Isya, Tarawih hingga Witir.

Mengenal masyarakat lokal muslim dan berteman dekat dengan mereka, memberikan

saya suatu perspektif yang berbeda, menambah pengetahuan dan membuat saya memahami kehidupan muslim di Cina seperti apa.

Muslim di Cina rata-rata berasal dari suku Hui yang merupakan suku minoritas di Cina. Adapun wilayah yang banyak penduduknya muslim adalah Qinghai, Gansu, XiAn, Ningxia, dan Xinjiang.

Saya dan teman-teman muslim Cina yang menjalankan ibadah puasa mempunyai grup

Wechat untuk saling membangunkan ketika sahur dengan cara menelepon ke nomor

handphone. Jadi, setiap bangun sahur masing-masing dari kami absen di grup, dan jika

tidak absen maka akan ditelepon dan diingatkan untuk segera makan sahur. Ini terjadi dengan saya ketika saya lupa menghidupkan alarm sahur dan untungnya ada mereka yang

menelepon dan membangunkan saya untuk segera makan sahur. Kalau tak mereka bangunkan malam itu, maka saya akan puasa kosong paginya.

Selain itu, jika ada kesempatan kami juga berbuka puasa bersama. Saya merupakan satu-satunya mahasiswa asing yang berada di grup mereka dan menghabiskan waktu bersama mereka. Sampai saat ada kegiatan yang pesertanya rata-rata mahasiswa lokal semua yang berpartisipasi, saya juga diajak ikut serta.

Pada hari Lebaran 23 April 2022, sekitar pukul 06.30 pagi kami berangkat bersama dari kampus ke masjid naik metro untuk menunaikan shalat Idulfitri. Di sana saya bertemu banyak sekali warga muslim Cina dan orang asing dari berbagai negara ikut shalat Eid.

Di depan masjid juga ada beberapa polisi yang turut mengamankan jalan agar tidak terjadi kemacetan.

Di masjid saya bertemu dengan banyak mahasiswa Indonesia yang berasal dari universitas berbeda dan beberapa orang tua yang berasal dari Indonesia yang bekerja di Cina

ataupun menikah dengan orang Cina sehingga mereka menetap di Cina.

Merupakan hal yang menggembirakan bisa berbicara bahasa Indonesia dan bercanda

layaknya orang Indonesia saat bertemu dengan orang Indonesia di Cina.

Setelah shalat, kami abadikan momen Lebaran bersama dengan foto bersama. Setelah itu, teman-teman Indonesia lainnya pulang ke kampus masing-masing untuk memasak

makanan khas Lebaran, seperti rendang, lontong, opor ayam, dan lain-lain.

Ada juga yang memilih untuk makan makanan halal cepat saji. Sementara saya sudah ditunggu oleh teman-teman yang merupakan Teman Muslim Cina untuk makan bersama mereka setelah selesai shalat Id.

Jadi, setelah sesi foto-foto dengan orang Indonesia berakhir, saya langsung bergegas menemui teman-teman saya yang telah berada di ruang makan.

Teman-teman Cina muslim memilih restoran yang menu makanannya merupakan makanan khas dari tempat mereka berasal. Kata mereka, biar saya juga ikut merasakan Lebaran bersama mereka.

Jadi, makan makanan khas wilayah mereka, sebagian besar makanannya enak dan cocok di lidah saya.

Kemudian, kami berbincang, bercanda, dan sesekali mereka menayanyakan bagaimana

kehidupan muslim di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Aceh.

Setelah makan siang bersama, pada siang harinya saya diajak untuk mengikuti ‘gathering’

yang diadakan para muslim Cina untuk mahasiswa muslimnya. Sejujurnya saya

ikut kegiatan ini karena ajakan teman-teman dan bersama mereka saya juga merasa nyaman dan tak merasa asing. Lagi pula melalui kegiatan ini saya bisa mengenal banyak muslim Cina lainnya. Jadi, saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan mereka.

Setelah mengikuti kegiatan, kami pun pulang ke kampus dan istirahat karena esoknya

kami mempunyai jadwal kuliah.

Biarpun satu universitas, kami merupakan mahasiswa yang berada di jurusan dan fakultas yang berbeda-beda. Saya sendiri yang pada hari

kedua Lebaran mempunyai jadwal kuliah yang penuh, sejak dari pukul 9 pagi sampai pukul 10 malam.

Namun, bisa dikatakan hari pertama Lebaran seharian penuh telah membuat saya merasakan berada di rumah kedua dan saya tidak merasa sendiri ataupun kesepian.

Esok harinya, ketika saya masuk ke ruang kuliah, teman-teman mulai bertanya, “Kamu kemarin lebaran ya? Selamat ya.”

Mereka juga menanyakan di mana saya merayakan Lebaran dan tradisi apa saja yang dilakukan saat Lebaran.

Karena ditanya, saya jelaskan kepada mereka tentang hal-hal dan tradisi yang dilakukan orang Indonesia ketika berlebaran.

Sebenarnya tradisi Lebaran orang Indonesia dengan tradisi Imlek masyarakat Cina ya

11-12-lah. Misalnya, sama-sama ada tradisi memberikan uang ke anak-anak, pakai baju baru, menghidangkan makanan khas Lebaran kepada tamu, dan sebagainya.

Bagi saya, Lebaran kali ini memanglah sangat berbeda dari Lebaran dan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Pada Lebaran kali ini saya mendapat banyak pengalaman dan

pembelajaran yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Saya merasa sangat bersyukur

dikelilingi oleh orang-orang baik dan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved