Feature
Kisah Danau Bungara yang Tembus ke Laut Batas Samudera Hindia
idak hanya indah dan menawan, danau ini juga memiliki kisah unik yang diceritakan turun temurun oleh penduduk lokal, yang kemudian dikuatkan dengan be
Danau Bungara di Kecamatan Kota Baharu, Kabupaten Aceh Singkil, merupakan danau terluas ke dua di Aceh setelah Danau Lut Tawar di Aceh Tengah. Tidak hanya indah dan menawan, danau ini juga memiliki kisah unik yang diceritakan turun temurun oleh penduduk lokal, yang kemudian dikuatkan dengan berbagai temuan fenomenal.
HAMPARAN air tenang menguning saat lembayung menghias senja. Sesaat beriak kecil, dampak ulah tangan bocah-bocah yang asik bermain air.
Melepas pandangan ke tengah, pulau-pulau kecil menyembul di atas permukaan air. Itulah pesona memandang Danau Bungara, Aceh Singkil, saat lembayung senja menghiasi cakrawala.
Namun, objek wisata Danau Bungara di Kecamatan Kota Baharu, Kabupaten Aceh Singkil ini tak hanya indah menawan mata, tetapi juga memiliki kisah unik yang diceritakan turun temurun oleh penduduk lokal. Danau yang dikelilingi Desa Danau Bungara, Lentong, Butar, dan Lapahan Buaya itu dipercaya tembus ke laut, di batas Samudera Hinda, melalui lubang yang ada di dasar danau.
Kisah Danau Bungara tembus ke laut bermula ketika seorang warga sedang membuat perahu di bukit pinggir danau. Konon dahulu kala, perahu yang masih dalam pengerjaan tersebut jatuh ke Danau Bungara. Sang pemilik yang berupaya mencari dengan terjun ke danau tak berhasil menemukan jejaknya. Anehnya selang tiga hari kemudian, perahu itu ditemukan di laut sekitar Anak Laut Gosong Telaga, Kecamatan Singkil Utara.
Tentu saja saksi mata peristiwa itu tak ada lagi. Akan tetapi kisahnya begitu melekat di benak warga yang tinggal di sekitar danau Bungara. "Kisah ini masih terus diceritakan turun temurun," kata Wanhar Lingga yang lahir dan dibesarkan dekat Danau Bungara.
Penduduk setempat belum mencoba menyelam mencari gua atau lubang penghubung aantara Danau Bungara dengan Samudera Hindia. Akan tetapi pernah ada tim peneliti dari Banda Aceh yang mengungkapkan bahwa di salah satu sudut dasar danau ditemukan semacam lubang besar.
Lubang tersebut boleh jadi tembus ke laut. Lantaran air danau akan bertambah ketika laut sedang pasang, meskipun airnya tetap tawar. Dugaan itu semakin kuat dengan fenomena ajaib seringnya ikan Giant trevally tersangkut jaring warga. Giant trevally (GT) biasa disebut ikan rambeu, gabu, atau kuwe gerong.
Tahun 2020 lalu, Kepala Dinas Perikanan Aceh Singkil, Saiful Umar, sempat menanggapi temuan ikan GT tersebut. Dia mengatakan, ikan GT di Danau Bungara merupakan ikan jenis air tawar. Menurutnya, ikan tersebut bisa hidup di air tawar, dengan catatan telah melakukan adaptasi sejak kecil.
Tetapi sejauh ini belum ada catatan ilmiah kapan ikan GT masuk ke Danau Bungara. Boleh jadi lubang di dasar danau itu tembus ke laut, sehingga ikan GT terjebak, selanjutnya beradaptasi hingga sekarang.
Selain ikan GT, warga juga pernah mendapatkan ikan teri nasi atau teri medan yang juga dikenal sebagai ikan bilis. Ikan ini juga dilaporkan hanya hidup di laut.
Teori lainnya selain soal gua yang tembus ke laut, bisa jadi ikan itu masuk ke danau melalui jalur sungai. Tetapi, danau seluas 85,6 hektare itu memiliki jarak sejauh sekitar 50 kilometer dari laut di pesisir Singkil. Karena itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan dari mana ikan-ikan laut tersebut berasal.
Danau Bungara sendiri merupakan tempat warga mencari nafkah dengan menangkap ikan. Penduduk setempat juga telah mengelola Danau Bungara, menjadi objek wisata. Di sana terdapat kuliner ikan air tawar yang dibudidayakan di danau Bungara.
Dari Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, ke Danau Bungara bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat, sekitar 1,5 jam perjalanan. Sementara dari Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, sekitar 1 jam. Letak danau berada di tengah permukiman penduduk, sekira 500 meter dari Kantor Camat Kota Baharu.(dede rosadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/DANAU-BUNGARA-FEATURE.jpg)