Kupi Beungoh
DPR Itu, Mewakili Siapa?
Untuk apa DPR itu dipilih? Apa guna DPR ? kenapa rakyat harus sibuk-sibuk memilih DPR? Katanya: "untuk mewakili suara rakyat"
Oleh: Ainal Mardhiah*)
Untuk apa DPR itu dipilih? Apa guna DPR ? kenapa rakyat harus sibuk-sibuk memilih DPR? Katanya: "untuk mewakili suara rakyat", apa betul begitu dalam prakteknya selama ini?
untuk apa negara menyediakan dana yang besar untuk memilih mereka yang mengatas namakan dirinya "wakil rakyat".
Jika ketika mereka berpikir dan bertindak, tidak mewakili tangisan rakyat, tidak untuk kepentingan rakyat. Ketika yang dilihat oleh rakyat untuk mensejahterakan diri dan orang terdekatnya. Untung membela kelompok dan partainya.
Lalu rakyat siapa yang bela, siapa yang peduli dengan rakyat?
Pendidikan mahal, meskipun katanya wajib dan gratis. Setelah sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, atau sederajat, jumlannya 12 tahun sekolah, selesai itu menganggur tidak ada pekerjaan.
Apakah karena sekolah tidak bermutu, sehingga tidak bisa mendidik generasi yang bermutu cuman bisa nganggur setelah 12 tahun sekolah, atau pemerintah yang tidak berusaha menyediakan lowongan pekerjaan, atau rakyat harus memikirkan sendiri, karena ini bukan tugas pemerintah, bukan DPR?
Baca juga: BSI yang Bermasalah, Kok Qanun LKS Yang Harus Direvisi
Untuk apa wakil rakyat?
Lanjut kuliah 5 tahun s1, 5 tahun Kuliah S2, terus S3 selama 5 tahun, ada yang kuliah sampai ke luar negeri dengan susah payah. Berharap bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan, ternyata juga susah
Setelah kita jumlah, sekolah 12 tahun tambah kuliah 15 tahun jadinya 27 tahun menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran untuk sekolah dan kuliah yang tidak mudah, belum lagi jika mendapat guru dan dosen yang sulit, lagi mempersulit.
Setelah lelah dalam waktu 27 tahun sekolah dan kuliah, lalu nganggur, sulit mendapatkan pekerjaan.
Bingung mau kerja apa? Mau buka usaha apa? mau lamaran pekerjaan dimana? sulit, jarang ada yang buka lowongan kerja jikalau pun ada tidak sesuai dengan gelar yang dimiliki.
Penerimaan pegawai baik negri maupun swasta bisa di hitung jari, sementara lulusan perguruan tinggi setiap tahun mencapai ribuan orang.
Kenapa negeri ini tidak sanggup membuka lowongan kerja untuk anak-anak negeri?
Jika masyarakat tidak ada pekerjaan, tidak bisa membeli keperluan pokok terutama SEMBAKO, akhirnya kelaparan. Dalam kondisi lemah seperti ini, bagaimana mereka bisa menjaga negeri ini, bagaimana mereka bisa mewarisi negri ini.
Yang terjadi, rumah tangga rusuh bercerai gara-gara ekonomi suami tidak ada pekerjaan, tidak ada lowongan pekerjaan, mau kerja di sawah dikebun tidak biasa, tidak ahli.
Baca juga: Pentingnya Para Wanita Kembali Pada Fitrahnya Sebagai Istri Dan Ibu Generasi
Yang sudah ahli mereka tidak punya ladang atau sawah, membantu orang di ladang dan di sawah sekarang semua sudah dikerjakan dengan mesin mulai dari membajak sawah, menanam, membersihkan rumput, memotong padi sampai selesai dan bersih sudah ada mesin.
Lalu apa yang bisa dikerjakan orang-orang untuk mendapatkan uang, tidak ada lagi kecuali sedikit sekali, sedangkan yang membutuhkan pekerjaan sangat banyak.
Yang terjadi kemudian, mulailah muncul ide mencari nafkah dengan cara haram, main game, judi online, pengedar ganja atau narkoba untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk membawa pulang sesuatu agar bisa di makan oleh anak istri.
Kalau tidak, istri akan cerewet, marah-marah, anak-anak menangis tidak ada makanan. Keadaan ini membuat laki-laki sering kehilangan akal sehat, sehingga terpaksa atau di paksa atau karena mudah memilih jalan yang salah untuk mencari rezeki.
Yang Perempuan muncul ide menjual diri, memilih menjadi pelakor, atau sekedar menjadi perempuan penghibur menemani laki-laki yang bukan suaminya, untuk mendapatkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bisa karena suami tidak sanggup mencari rezeki, tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan atau karena suami tidak bertanggung jawab.
Baca juga: Asoe Lhok Te Deng Deng, Ureng Tameng Yang Dapat Kerja
Seperti yang disebutkan oleh seorang anak yang berprofesi sebagai kurir obat terlarang, padahal dia masih duduk di bangku sekolah, profesi ini dia lakukan sepulang sekolah.
Saya rasa jika demikian, tidak hilang kemungkinan jika ada kesempatan karena dia butuh uang, di sekolah pun pekerjaan ini dia lakukan.
Ketika ditangkap oleh aparat keamanan: Dia bilang bahwa dia butuh uang untuk membiayai hidupnya, sementara ayah ibunya bercerai dan masing-masing sudah menikah lagi, sehingga anak tersebut tidak ada yang menafkahi.
Sangat menyedihkan nasib generasi di negari ini.
Disebabkan ekonomi sulit, orang tua selalu dalam konflik, banyak yang bercerai, seperti yang di catat oleh Mahkamah Syar'iyah Aceh, ada 6000 rb lebih kasus perceraian di Aceh tahun 2022,
Dengan kondisi rumah tangga seperti ini, bagaimana anak bisa mendapatkan kasih sayang yang cukup, pendidikan agama yang cukup? Sangat mustahil.
Tidak heran jika kemudian kita melihat anak-anak lebih memilih mangkal dijalan, di kafe, di tempat hiburan, warung warung gelap, dibandingkan di rumah.
Di rumah orang tua yang punya masalah, ribut terus, anak yang di marahi, anak yang menjadi korbannya, sehingga anak lebih nyaman berada di luar rumah.
Baca juga: Hakekat Berpolitik Bagi Seorang Muslim, Untuk Menjaga Umat dan Syariat Islam
Berjalan waktu anak butuh uang, melakukan hal-hal yang terlarang untuk mendapatkannya, butuh kasih sayang dia mencari yang aman dari sesama teman bahkan dari sesama jenis.
Tidak salah kata Rasulullah: "kemiskinan mendatangkan kekafiran" , meski tidak nyata-nyata anak-anak itu mengatakan mereka kafir, murtad dari Islam, namun prilaku mereka tidak mencerminkan sikap, akhlak seorang muslim, menunjukkan dia sudah jauh dari Islam, tidak shalat, melakukan hal-hal yang haram. Sangat sedih melihat generasi di negari ini.
Untuk apa wakil rakyat?
Anak-anak, remaja, orang tua mangkal siang malam di warkop, kafe-kafe sampai pagi lagi menjelang ada yang belum pulang ke rumah. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengingatkan, tidak ada aturan yang menjaga generasi ini dari kehancuran yang sudah jelas di depan mata.
Seperti adanta aturan jam 11 malam tidak boleh ada warkop, kafe yang buka, tidak boleh anak-anak, remaja di luar rumah melewati jam 11 malam.
Untuk apa wakil rakyat?
Kesehatan mahal, sulit, rumit, berbelit-belit, belum lagi pilih kasih, apalagi kalau tidak ada saudara atau kenalan di Rumah Sakit, jangan berharap di layani dengan baik. Kecuali yang bayar.
Belum lagi, ada banyak kasus malpraktek di pemberitaan, yang membuat masyarakat ketakutan dan khawatir jika berurusan dengan rumah sakit, dan medis.
Kita lihat masyarakat lebih memilih berobat keluar negri, karena katanya dokter diluar negeri lebih serius dalam mengobati dan lebih menghargai pasien.
Masyarakat berobat di dalam negeri jika terpaksa, karena tidak ada uang, sedangkan mereka yang banyak uang rata-rata berobat ke luar negeri.
Apa kurang pintar tim medis di dalam negri ini? apa kurang canggih alat yang dimiliki, saya rasa tidak.
Yang kurang adalah keseriusan, dan kurang menghargai pasien, sebagian tim medis senyum saja dengan pasien sulit.
Seperti dikata oleh Tim Medis luar negeri bahwa: "Tim Medis dalam negri tidak serius dalam mengobati pasien".
Apakah mereka, tidak melihat bahwa pekerjaan ini jalan mereka ke syurga, selain untuk mencari rezeki?
Meski tidak semua tim medis demikian, namun yang banyak di jumpai oleh pasien adalah yang tidak serius, yang tidak begitu menghargai pasiennya. Padahal, pasien adalah ladang rezeki buat mereka, sekaligus jalan ke syurga yang mereka pilih, bukan diminta oleh pasien.
Jika boleh sakit di rumah, masyarakat lebih pilih dirumah, kecuali sudah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menolak di bawa paksa ke rumah sakit oleh keluarga. "Keteladanan TIM medis banyak yang terkikis , bahkan ada yang hilang."
Belum lagi ASKES yang sulit dan rumit, meski sudah di bayar setiap bulan, tidak menjamin akan mendapatkan pelayanan yang terbaik.
Di sisi lain Sumber Daya Alam Makmur, tapi lowongan pekerja sulit, kalau ada lowongan pekerjaan di kuasai oleh asing, oleh orang luar.
Sumber Daya Alam milik kita, yang kelola orang luar, yang menikmati orang luar, anak negri hanya menjadi penonton karena tidak ada kemampuan mengelola, mengolah sumber Daya alam yang ada.
"Sekolah dan belajar agama yang yang bagus wahai anak negri jangan sibuk di warung kopi kalo tidak ingin negri ini orang yang miliki"
Rakyat lapar, rakyat susah, pekerjaan susah, biaya hidup mahal, tidur dalam keadaan lapar sudah hal biasa. Bisa makan itu hal yang luar biasa bagi sebagian besar masyarakat di negeri ini.
Kemana rakyat harus mengadu? Untuk apa wakil rakyat?
Apa seperti kata sebuah lirik lagu, "tanyalah pada rumput yang bergoyang", atau seperti kata Ustadz: "pada Allah saja tempat mengadu".
Untuk apa negara menghabiskan uang dengan jumlah yang banyak, waktu dan tenaga untuk memilih wakil rakyat? untuk apa rakyat sibuk memilih dewan perwakilan rakyat? kalau kemudian rakyat tidak terurus, rakyat kesulitan, kelaparan, pendidikan sulit, pekerjaan sulit, kesehatan sulit, tidak ada yang peduli, tidak ada tempat mengadu.
Untuk apa 11 komisi di Depan Perwakilan Rakyat, apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rapatkan?
Dalam Wikipedia, Dewan Perwakilan Rakyat adalah salah satu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan lembaga perwakilan rakyat.
Dengan demikian, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dipilih oleh rakyat, untuk Mewakili rakyat, untuk mengurus kepentingan rakyat, untuk mensejahterakan rakyat.
Namun dalam dunia nyata, yang nampak jelas sejahtera adalah para dewan yang duduk di gedung perwakilan rakyat, bisa dilihat dari jumlah rumah yang mereka miliki, model mobil, jumlah mobil, jumlah harta yang kita dengar bertambah dalam waktu yang sangat singkat, jumlah istri, gaya hidup anggota keluarga, dan lainnya
Sedangkan rakyat yang memilihnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit.
"setiap kita adalah pemimpin, setiap pemimpin akan ditanya tentang KEPEMIMPINANNYA".
Untuk Anggota Dewan akan ditanya tentang janjinya dengan seluruh rakyatnya dan akan ditanya tentang sudah amanah dia menggunakan jabatannya, betul dia sudah Mewakili rakyatnya, sebagaimana janji awal mereka minta dipilih. Mereka mengusulkan diri, dengan berbagai janji manis dan minta dipilih.
Janji adalah hutang, hutang dengan rakyat banyak wahai saudaraku. Moga Takwa Kita Ketika Hidup, Takutnya Kita Kepada Allah Ketika Masih Hidup, menjadi penolong kita, di hari kemudian.
*) PENULIS Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DISINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg.jpg)