Perekonomian Aceh
Nilai Ekspor Nonmigas Aceh meningkat, Neraca Perdagangan Luar Negeri hingga Mei Masih Surplus
Dari delapan kelompok komoditas ekspor tadi, kelompok komoditas ikan olahan mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 46,64 persen, nilai ekspornya
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Herianto I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Badan Pusat Statistik Aceh (BPS) Aceh menyatakan, neraca perdagangan luar negeri Aceh periode Januari – Mei 2023, masih surplus senilai 277,8 juta dollar Amerika, setara dengan Rp 4,178 trilliun. Kondisi itu terjadi, pengaruh meningkatnya nilai ekspor non migas sebesar 7,42 persen.
“Neraca perdagangan Aceh masih surplus, karena nilai ekspornya hingga Mei 2023, sudah mencapai 315,1 juta dollar Amerika setara dengan Rp 4,7 triliun, sedangkan nilai impornya baru mencapai 37,3 juta dollar Amerika, setara dengan Rp 561,4 miliar,” kata Fungsional Statistisi BPS Aceh, Wahyu Agung Sutikno kepada Serambinews.com, Minggu (2/7/2023).
Wahyu menjelaskan, komoditas nilai ekspor Aceh dibagi ke dalam, delapan kelompok komoditas. Yaitu kelompok komoditas buah-buahan, kopi dan rempah-rempah, produk nabati, minyak nabati, ikan olahan, bahan bakar mineral, dan berbagai produk kimia lainnya.
Baca juga: Rendy Ngaku Tak Ada Niat Selingkuh, Akui Syahnaz Sadiqah Tempat Curhat yang Nyaman
Dari delapan kelompok komoditas ekspor tadi, kelompok komoditas ikan olahan mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 46,64 persen, nilai ekspornya untuk periode Januari – Mei 2023, dari 4.076.983 dollar Amerika (2022) naik menjadi 5.978.650 dolar Amerika (2023).
Selanjutnya nilai ekspor kelompok minyak nabati naik mencapai 12.870,11 persen dari 210.615 dollar Amerika menjadi 27.317.001 dollar Amerika. Kemudian berbagai produk kimia naik sebesar 52,10 persen dari 5.756.339 dolar Amerika menjadi 8.755.212 dolar Amerika.
Untuk kelompok bahan bakar mineral/batubara nilainya masih turun sebesar 1 persen, dari 206.932.288 dollar Amerika menjadi 204.855.321.
Meski nilai ekspor kelompok bahan bakar mineral/batubara mengalami sedikit penurunan, tapi ia memberikan porsi terbesar mencapai sebesar 65,01 persen untuk hitungan nilai ekspor Aceh secara menyeluruh periode Januari - Mei 2023 sernilai 315,136.094 dollar Amerika.
Kelompok komoditas lain yang mengalami penurunan adalah kelompok buah-buahan mencapai 55,30 persen dari 10.376.693 dollar Amerika menjadi 4.638.853 dollar Amerika.
Wahyu mengatakan, kenapa nilai ekspor kelompok minyak nabati/CPO Bersama produk turunannya mengalami kenaikan yang cukup tinggi mencapai 12.870,11 persen.
Hal ini disebabkan, permintaan CPO Bersama produk turunannya dari luar negeri ke Aceh cukup tinggi, sehingga mendorong volume dan nilai ekspor CPO bersama turunannya ke luar negeri jadi melonjak pada pertengahan tahun 2023 ini.
Begitu juga, dengan berbagai produk bahan kimia, nilai ekspornya naik mencapai 52,10 persen, disebabkan permintaan pupuk dari luar negeri meningkat.
Jadi, pabrik pupuk yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe itu, telah memberikan andil yang cukup lumayan bagus, bagi peningkatan nilai ekspor dan ekonomi Aceh ke depannya.
Ikan olahan dari Aceh, nilai ekspornya meningkat, disebabkan permintaannya dari luar negeri meningkat. Antara lain dari Jepang, Amerika, Belgia dan lainnya.
Sementara untuk komoditas kelompok bahan bakar mineral/batubara, permintaan terbesarnya dari India, Thailand. Minyak nabati, permintaan terbesarnya dari Tiongkok, Cina dan lainnya.
Kenaikan nilai dan volume ekspor Aceh itu, menurut Wahyu, akan memberikan dampak positif bagi perkembangan dunia usaha dan perekonomian daerah ini.
Yang membahagiakan kita saat ini, pemuatan barangnya juga didominasi melalui Pelabuhan lokal di Aceh, nilai ekspornya mencapai 245.609.038 dollar Amerika.
Sementara dari Pelabuhan di Sumut sudah turun, hanya 68.680.965 dolar Amerika, dan beberapa pelabuhan lainnya di pulau Sumatera dan Jawa, seperti Riau, DKI Jakarta, Jawa Timur, bali, Sulawesi Selatan, nilai ekspornya juga sudah berangsur turun.
“Ini artinya, volume barang yang diekspor dari Pelabuhan luar Aceh, sudah turun,” kata Wahyu.
Kondisi tersebut di atas menggambarkan, bahwa pengusaha dari Aceh, mulai tahun 2023 ini, sudah memaksimalkan pengiriman barang.komoditi ekspornya ke luar negeri menggunakan pelabuhan lokal, baik laut maupun udara.
Dibukanya kembali penerbangan langsung Aceh – Malaysia, juga telah mendorong volume dan nilai ekspor dari Aceh, melalui penerbangan udara naik kembali.
Misalnya untuk ekspor kelompok ikan olahan, kopi, rempah-rempah, buah-buahan berbentuk kemasan, produsennya lebih menggunakan jalur penerbangan udara, ketimbang laut.
Alasannya, supaya cepat tiba di negara tujuan.
“Sedangkan untuk komoditi bahan bakar mineral/batu bara, minyak nabati/CPO dan turunannya, bahan kimia lainnya, masih menggunakan jalur laut,” ujar Wahyu.(*)
Baca juga: Objek Wisata Ramai Pengunjung, Kapolsek Tingkatkan Patroli dan Pengamanan
Baca juga: Inara Rusli Bingung Usai Diganjar Award: Enggak Ada yang Mau Dapat Penghargaan karena Diselingkuhi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sutikno-89.jpg)