Selasa, 28 April 2026

Opini

Mencegah Rabies, Si Pembunuh tanpa Ampun yang Perlu Diwaspadai Masyarakat

Virus rabies dapat menular melalui air liur, gigitan atau cakaran dan jilatan pada kulit yang luka oleh hewan yang telah terinfeksi rabies.

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBI INDONESIA
Miftahul Jannah, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat  Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. 

Oleh Miftahul Jannah, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat  Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

PERTENGAHAN tahun 2023 publik kembali digemparkan dengan kasus seorang anak 4 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur meninggal karena terinfeksi penyakit rabies setelah digigit seekor anjing.

Anak tersebut digigit di bagian wajah, dan anjing yang menggigitnya ditemukan mati satu hari kemudian.

Sedangkan si bocah tidak langsung dilarikan ke rumah sakit.

Sang nenek mengompresnya dengan air panas dan menggunakan minyak kelapa.

Karena penanganannya terlambat, beberapa hari kemudian pada tubuh anak tersebut muncul gejala.

Sakit pinggang, nyeri perut, demam, kejang-kejang, agresif serta keluarnya air liur terus-menerus.

Setelah sampel otaknya diperiksa oleh Balai Besar Veteriner Denpasar, ternyata hasilnya positif rabies.

Rentannya penyakit rabies di Provinsi Nusa Tenggara Timur disebabkan masih banyak hewan peliharaan seperti anjing di wilayah tersebut.

Anjing biasanya dipergunakan sebagai penjaga rumah ataupun penjaga kebun.

Satu rumah memiliki hampir empat ekor anjing dan akrab dengan keseharian masyarakat setempat.

Namun ironisnya, anjing-anjing tersebut tidak divaksin dan tanpa pengawasan sehingga rawan terjangkit rabies.

Rabies pembunuh tanpa ampun

Penyakit rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Lysavirus.

Virus ini dikenal sangat ganas yaitu menyerang sistem saraf.

Saraf yang rusak akan membuat penderitanya sensitif terhadap cahaya, angin bahkan air.

Hewan penyebab rabies adalah anjing, kucing, kelelawar dan kera.

Sebanyak 95 persen  kasus rabies disebabkan oleh gigitan anjing.

Virus rabies dapat menular melalui air liur, gigitan atau cakaran dan jilatan pada kulit yang luka oleh hewan yang telah terinfeksi rabies.

Baca juga: Bocah 9 Tahun di Mamasa Sulbar Meninggal Dunia Usai Digigit Anjing Rabies

Hewan yang berisiko tinggi untuk menularkan rabies umumnya adalah hewan liar atau hewan peliharaan yang tidak mendapat vaksin antirabies.

Kemenkes RI menyatakan hingga April 2023 sudah ada 31.113 kasus gigitan hewan penular rabies.

Sebanyak 23.211 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies, dan 11 kasus kematian di Indonesia.

Saat ini ada 26 provinsi yang menjadi endemis rabies.

Tapi hanya 11 provinsi yang bebas rabies. Yakni; Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Sudah ada dua kabupaten yang menyatakan kejadian luar biasa (KLB) rabies yaitu Kabupaten Sikka, NTT dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Situasi rabies di Indonesia tahun 2020 hingga April 2023, rata-rata per tahun kasus gigitan sebanyak 82.634.

Kemudian yang diberi vaksin antirabies hampir 57.000.

"Rabies merupakan tantangan besar di Indonesia karena dalam tiga tahun terakhir kasus gigitan hewan rabies itu rata-rata setahunnya lebih dari 80.000 kasus dan kematiannya rata-rata 68 orang,” ungkap dr Imran.

Penyakit rabies bukan penyakit baru

Pada tahun 1894, pertama kali virus rabies menyerang manusia ditemukan oleh EV De Haan (Ilmuwan dari Belanda).

Virus rabies termasuk dalam kelompok virus RNA yang dikenal sebagai Lyssavirus dan umumnya menyebar melalui saliva hewan yang terinfeksi.

Pada dasarnya rabies dapat menyerang siapa saja dan tidak memandang usia.

Namun anak-anak lebih rentan terhadap virus ini karena tingkat pengawasannya yang masih minim dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya virus rabies.

Baca juga: Bocah Usia 10 Tahun di Sumut Meninggal Usai Digigit Anjing Rabies, Korban Sempat Alami Kejang

Gaya hidup memelihara hewan di kalangan masyarakat seperti kucing dan hewan liar lainya tanpa pengawasan orang tua dinilai berisiko terhadap penularan virus rabies.

Apakah gigitan anjing, kucing dan hewan liar lainnya dapat menyebabkan rabies?

Tentu saja tidak semua gigitan hewan tersebut dapat menularkan rabies.

Seseorang dapat terkena virus rabies jika hewan tersebut sudah terinfeksi rabies.

Oleh sebab itu perlunya dilakukan vaksinasi pada hewan peliharaan secara rutin untuk mencegah penularan virus rabies dari hewan peliharaan.

Hindari kontak dengan hewan liar karena dapat berpotensi terinfeksi rabies.

Jika terkena gigitan hewan peliharan seperti anjing, kucing, sapi, kambing, segera bersihkan luka dengan sabun lalu kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius.

Di sisi lain, dampak gejala dari virus ini tidak langsung terlihat dan sangat bervariasi.

Mulai dari beberapa minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun,

Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan dan kesadaran tentang rabies sejak dini untuk melindungi generasi muda ke depan dari ancaman serius ini.

Pencegahan

Kita belajar dari pandemi virus covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 silam.

Tidak ada yang menduga bagaimana dampak dari suatu virus yang proses penyebarannya begitu cepat.

Begitu banyak korban berjatuhan dan melumpuhkan berbagai sektor kehidupan.

Sementara untuk pencegahaannya sangat terjangkau dan mudah dilakukan kala itu.

Seperti biasa menerapkan perilaku sosial distancing, cuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, menjaga daya tahan tubuh, serta etika batuk dan bersin.

Namun kita kalah dengan kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat yang belum sepenuhnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga dengan informasi terhadap penyakit rabies sangat diperlukan sebagai pencegahan utama dalam memutuskan mata rantai penyebaran penyakit tersebut.

Kesadaran dan kerja sama dari semua pihak sangat penting untuk mencapai tujuan ini.

Membangun koordinasi dengan lintas sektoral seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas, dokter hewan dan otoritas pemerintah dalam menjalankan program-program penanganan rabies menjadi salah satu solusinya.

Selain itu kesadaran masyarakat serta pengetahuan tentang rabies dan tindakan pencegahannya merupakan kunci utama dalam mengurangi penyebaran penyakit ini di tengah masyarakat.

Sehingga risiko terinfeksi rabies dapat di tekan sekecil dan sedini mungkin.(*)

Baca juga: VIRAL Bocah Arab Minta Mobil Mercedes ke Pangeran MBS, Besoknya Mobil Langsung Dikirim ke Rumahnya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved