Sabtu, 25 April 2026

Konferensi Internasional

500 Peserta dari 20 Negara Ikut Konferensi Internasional UIN

Tujuan konferensi ini untuk menyisir budaya beragama yang inklusif dengan menyediakan ruang pertukaran di antara muslim dan kelompok beragama lainnya.

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Taufik Hidayat
Dok Humas
Konferensi Internasional dan AMAN Assembly yang mengusung tema ”Religious Inclusion and Peacebuilding in the World: the Perspectives of Muslims” berlangsung 14-17 Oktober 2023 di Auditorium Prof Ali Hasymi UIN Ar-Raniry. 

Laporan Muhammad Nasir | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyelenggarakan Konferensi Internasional dan AMAN Assembly yang mengusung tema ”Religious Inclusion and Peacebuilding in the World: the Perspectives of Muslims”. Konferensi yang diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, berlangsung 14-17 Oktober 2023 di Auditorium Prof Ali Hasymi UIN Ar-Raniry.

Direktur The Asian Muslim Action (AMAN) Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah dalam konferensi pers melalui Zoom meeting pada, Kamis (12/10/2023), menjelaskan, konferensi tersebut akan dihadiri 500 peserta perwakilan dari 20 Negara di dunia. Mereka berasal dari Afghanistan, Australia, Bangladesh, Burundi, India, Indonesia, Iran, Kenya, Malaysia, Myanmar, Nepal, Nigeria, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Swedia, Thailand, United Kingdom dan Amerika Serikat. 

Ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari agenda ini adalah menyisir budaya beragama yang inklusif dengan menyediakan ruang pertukaran di antara muslim dan kelompok beragama serta berkeyakinan lainnya dari sejumlah negara. 

“Konferensi ini diharapkan menjadi barometer dunia untuk memikirkan atau membuat sebuah kebijakan dan praktik tentang budaya beragama yang inklusif, terutama menghadirkan pembelajaran baik dari Indonesia,” ujarnya.

Pada pertemuan tersebut, pihaknya juga menghadirkan perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) bersama Muhammadiyah, khusus untuk membicarakan tentang religious inclusion dari kacamata dua organisasi besar ini.

"Sesi hari pertama juga ingin menyediakan ruang bagi orang luar Aceh melihat Aceh secara lebih komprehensif, tidak hanya memandang Aceh dari cerita tsunami atau konflik. Mengingat bahwa saat ini telah terjadi banyak perkembangan di Aceh, terutama pasca perjanjian Perdamaian Helsinki," terangnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Hukum dan Syariah UIN Ar-Raniry sekaligus AMAN Council, Prof Dr Kammaruzaman, MSh mengatakan, melalui agenda ini, peserta akan diajak melihat Aceh lebih dekat dengan diskusi dan exposure visit ke beberapa tempat bersejarah dan gampong atau desa yang menjadi rangkaian acara, yaitu Museum Tsunami Aceh, Monumen Kapal Tsunami, Kuburan Tsunami Ulee Lheue, Desa Wisata Gampong Nusa Aceh dan Museum Rumah Cut Nyak Dien. "Kunjungan tersebut diharapkan dapat membuka cara pandang yang selama ini diperoleh dari media, terutama dari influencer tentang Aceh," harapnya.

Konferensi Internasional selama dua hari mendatang dirancang untuk memberikan ruang pertukaran bagi umat Islam maupun agama dan kepercayaan lainnya, pemimpin agama, akademisi, aktivis, praktisi, media dan anak-anak muda dari organisasi dan komunitas untuk berbagi capaian, tantangan, termasuk praktik baik sejumlah isu terkait situasi keberagamaan di Asia dan dunia. 

Mulai dari pencapaian umat Islam dalam mempromosikan kebebasan beragama, toleransi, dan perdamaian, termasuk mendukung kepemimpinan perempuan dan anak muda dalam pembangunan perdamaian serta mendiskusikan berbagai persoalan humanitarian, crisis, migrasi, dan perlawanan masyarakat dengan pendekatan negosiasi, serta kekerasan ekstremisme dari konteks anak muda dan perempuan, . 

“Secara spesifik akan ada pembicaraan tentang Women, Peace and Security (WPS) oleh tokoh Muslim dunia. Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 1325 telah dikeluarkan pada 2000 dan diharapkan bisa menjadi kerangka pikir untuk menjawab persoalan-persoalan keamanan dan perdamaian di tingkat internasional,” tegas Direktur The Asian Muslim Action (AMAN) Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah.

Kemudian, forum ini juga akan menyediakan ruang khusus bagi anak muda bersuara dalam sesi Plenary Open Mic dengan tema “Reinventing Nonviolent Civil Resistance: Youth Peace Movement and Technology”.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved