Info Pangan
Gerakan Pangan Murah Sukses Kendalikan Inflasi Aceh
Aceh termasuk berhasil dalam upaya menekan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, inflasi di provinsi.....
"Jadi dengan tiga program ini, kita berhasil melakukan stabilisasi harga dan pasokan pangan di Aceh,” SURYA RAYENDRA Plt Kadis Pangan Aceh
SERAMBINEWS.COM - Aceh termasuk berhasil dalam upaya menekan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, inflasi di provinsi ini secara year on year (November 2023 terhadap Desember 2022) sebesar 1,44 persen.
Angka ini lebih rendah dibanding nasional yang sebesar 2,86 persen. Keberhasilan pengendalian inflasi ini tentu tidak terlepas dalam peranan Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), termasuk di dalamnya Dinas Pangan Aceh yang proaktif melaksanakan instruksi Presiden Joko Widodo dan Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki untuk memberi perhatian serius pada pengendalian inflasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Aceh, Drs Surya Rayendra mengatakan, pihaknya langsung bergerak cepat menindaklanjuti instruksi tersebut dengan melakukan sejumlah upaya mengendalikan inflasi.
Setidaknya, ada tiga program utama yang dilakukan oleh Dinas Pangan Aceh pada tahun 2023 ini. Program pertama yaitu Gerakan Pangan Murah (GPM), kedua Bantuan Ongkos Angkut, dan ketiga mengadakan kegiatan Perkarangan Pangan Lestari (P2L) yang dilakukan oleh kelompok tani.
“Jadi dengan tiga program ini, kita berhasil melakukan stabilisasi harga dan pasokan pangan di Aceh,” kata Surya Rayendra.
Dijelaskan, Gerakan Pangan Murah dilaksanakan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan di masyarakat. Selain itu juga sebagai upaya pihaknya berkontribusi dalam pengendalian inflasi daerah.
Program ini menurut Surya, merupakan salah satu cara yang efektif untuk menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas harga komoditas bahan pokok.
Masyarakat sebut dia, dapat berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau, sehingga terjadi perputaran ekonomi yang dapat meningkatkan roda perekonomian daerah.
Adapun komoditas yang dipasarkan pada Gerakan Pangan Murah meliputi semua kebutuhan pokok masyarakat, terdiri beras, telur, gula pasir, minyak goring, cabai, bawang merah dan berbagai komoditas lainnya.
“Kita melakukan Gerakan Pangan Murah ini di daerah indikator inflasi dan daerah penyangganya. Ada 10 kabupaten/kota yang kita lakukan program Gerakan Pangan Murah dalam tahun ini,” sebut Plt Kadis Pangan Aceh ini.
Selanjutnya, terkait dengan program Bantuan Ongkos Angkut yang dikhususkan untuk mendistribuskan pangan di sejumlah wilayah Aceh.
Surya Rayendra menjelaskan, dalam program ini, pihaknya memberikan fasilitas angkut gratis kepada distributor besar yang memasukkan barang-barang kebutuhan pokok, baik itu dari luar Aceh maupun antar kabupaten/kota di Aceh.
“Ini bukan subsidi, tapi kita bantu semua ongkos angkutnya, sehingga distributor tidak lagi memperhitungkan ongkos angkut dalam menjual barangnya.
Jika pun mereka mengambil laba, ya hanya sekedarnya saja, tidak lagi menghitung ongkos angkut,” jelas Surya. Kendati demikian, dia menjelaskan, tidak semua distributor besar bisa mendapat program Bantuan Ongkos Angkut ini.
Program ini diakatakannya akan diberikan apabila suatu komoditas mengalami kenaikan harga, salah satunya adalah cabai.
“November ini kita memberikan program Bantuan Ongkos Angkut kepada distributor besar cabai. Di Pulau Jawa, harga cabai merah sudah tembus Rp 100 ribu, tapi di kita (Aceh) masih Rp 60 ribu. Nah kalau tidak kita bantu, bisa naik terus harganya itu,” papar Surya.
Upaya berikutnya yang dilakukan Dinas Pangan untuk mengendalikan inflasi adalah dengan menggalakkan pemanfaatan pekarangan rumah melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Kegiatan ini dilaksanakan oleh kelompok masyarakat dengan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan.
Tujuannya untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan, serta pendapatan. Surya mengatakan, program ini dilaksanakan dengan memberikan bantuan modal dan bibit kepada kelompok tani.
“Mereka ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap pasar karena sudah punya cabai, tomat, bahkan ayam dan ayam petelur. Nah, lebihnya mereka bisa jual dan menghasilkan pendapatan,” pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dinas-pangan-071223.jpg)